Istri Eks Sekda Solo Jelaskan Alasan Nyaleg Tak Lewat Golkar

Ilustrasi pemilu. (Solopos/Whisnu Paksa)
23 Juli 2018 13:15 WIB Ivan Andimuhtarom Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Istri eks Sekretaris Daerah (Sekda) Solo Qomaruddin, Daryati, akhirnya buka suara soal alasan dirinya tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019 lewat DPD II Partai Golkar Solo di mana ia menjadi wakil bendahara.

Daryati mendaftar sebagai caleg DPRD Kota Solo lewat Partai Amanat Nasional (PAN) Solo. Hal ini sempat menimbulkan pertanyaan di kalangan pengurus DPD II Partai Golkar Solo  lantaran Daryati belum mengajukan sura pengunduran diri dari jabatan wakil bendahara.

Tokopedia

Diwawancarai Solopos.com, Senin (23/7/2018) pagi, Daryati mengatakan keputusan itu diambil karena ia merasa kurang bermanfaat di Partai Golkar. Dia mengungkapkan telah membuat surat pengunduran diri ke Partai Golkar pada Senin (23/7/2018).

Ia bakal menyerahkan surat pengunduran diri itu ke Ketua DPD II Partai Golkar Solo. “Saya sudah tidak aktif di Partai Golkar selama tiga bulan,” ujarnya.

Terkait tuntutan pengurus DPD II Golkar yang memintanya menyelesaikan masalah administratif sekaligus membuat laporan pertanggungjawaban (Lpj) atas kinerjanya sebelum mundur, Daryati menyatakan tak tahu-menahu. Menurutnya, ia hanyalah wakil bendahara yang tak membawa uang partai.

“Semua buku, Lpj., dan catatan semua dibawa pegawai sekretariat Golkar yang namanya Mbak Atik. Bisa ditanyakan ke Mbak Atik itu,” kata dia menyanggah tudingan pengurus DPD II Golkar Solo.

Niatnya mundur dari Partai Golkar sebenarnya sudah ada sejak lama. Ia merasa selama jadi pengurus tak memiliki manfaat sama sekali. Suaminya juga sudah menyuruhnya keluar sejak lama.

“Setelah saya pikir, hati nurani saya mengatakan saya tidak cocok [di Golkar]. Saya sebenarnya tidak ingin menjadi caleg. Tapi saya dilamar PAN  untuk maju jadi caleg. Saya memilih partai Islam yang sepaham dengan agama saya [PAN],” ungkapnya.

Ia menggarisbawahi adanya tudingan partai lain mengambil kader Partai Golkar seperti diungkapkan fungsionaris Golkar Solo. Menurutnya, pada dasarnya bukan partai lain yang mengambil dirinya atau rekannya yang lain. Namun, mereka sudah tidak lagi sepaham dengan Golkar.

“Zaman sudah berubah. Janganlah selalu merasa menjadi partai besar kalau tidak bisa membina kader dengan baik. Ya akhirnya banyak yang loncat [partai]. Sebaiknya, sebelum menyalahkan partai  lain, introspeksi adalah hal yang baik,” paparnya.