3 Waduk dan 32 Embung Sragen Mengering

Warga melintasi jalan inspeksi di pinggir Waduk Botok Kedawung, Sragen, Selasa (17/7 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
23 Juli 2018 07:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tiga dari tujuh waduk di wilayah Bumi Sukowati sudah mengering  pada musim kemarau ini. Sisa air di empat waduk lainnya hanya cukup untuk mengaliri lahan pertanian maksimal sebulan ke depan.

Selain itu, 32 embung dari 46 embung yang dikelola Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sragen juga mengering. Penjelasan itu disampaikan Kabid Pengairan DPUPR Sragen, Supardi, saat ditemui wartawan, belum lama ini.

Tokopedia

Supardi mengatakan tiga waduk yang mengering itu yakni Waduk Gebyar, Waduk Botok, dan Waduk Gembong. Tiga waduk itu mengairi areal lahan pertanian seluas 4.184 hektare.

Dari ribuan hektare areal pertanian yang mengandalkan tiga waduk tersebut, kata dia, saat ini dalam kondisi bera dan sebagian ditanami palawija.

“Untuk empat waduk lainnya, yakni Blimbingan, Kembangan, Brambang, dan Ketro masih tersedia air  tetapi terus menipis," jelas Supardi.

Air di Waduk Kembangan yang tinggal 180 m3 diperkirakan habis dalam dua hari ke depan. Di Waduk Blimbing juga tinggal 189,30 m3. Kemudian di Waduk Brambang masih 4.359 m3 yang diperkirakan habis dalam sebulan ke depan. "Air di Waduk Ketro tinggal 208.400 m3 tetapi paling dua pekan ke depan juga habis,” jelas dia.

Mengenai kondisi embung, Supardi menjelaskan total kapasitas 46 embung di Sragen mencapai 5,96 juta m3 untuk kebutuhan irigasi pertanian seluas 2.008 hektare. Dia menyebut hanya 14 embung yang masih tersedia air, yakni di Karangmalang, Gesi, Mondokan, Jenar, Kedawung, Tangen, Sragen, Tanon, dan Sukodono.

“Embung itu hanya tampungan air hujan. Ada beberapa embung yang memang bukan untuk sarana irigasi pertanian, seperti embung di Taman Kota, Sine, Sragen Kota,” katanya.

Dia menyampaikan dengan mengeringnya sejumlah embung dan waduk para petani diharapkan tidak menanam padi tetapi menanam palawija atau dianggurkan. Dia mengatakan kalau petani nekat tanam padi  akan terlalu berisiko gagal panen.

Supardi juga sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) untuk mengantisipasi kekurangan air bagi lahan pertanian di sepanjang aliran Colo Timur. Dia menjelaskan debit air di Waduk Gajah Mungkur sudah menipis sehingga jatah untuk saluran Colo Timur hanya 12 m3 per hari yang dibagi menjadi tiga kabupaten, yakni Sukoharjo, Karanganyar, dan Sragen.

“Masing-masing daerah mendapatkan jatah 4 m3 per hari. Namun jatah itu bagi Sragen yang daerah hilir khawatir tidak sampai ke petani di wilayah timur,” ujarnya.