Pedagang Ayam di Boyolali Resah Pasokan dari Peternak Mandek

Pedagang ayam potong yang beroperasi di wilayah Boyolali memarkir mobil mereka di sekitar Menara Jagung kompleks baru perkantoran terpadu Pemkab Boyolali, Senin (23/7 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
23 Juli 2018 18:10 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI — Puluhan pedagang ayam potong yang beroperasi di wilayah Boyolali berkumpul di sekitar Menara Jagung kompleks baru perkantoran terpadu Pemkab Boyolali, Senin (23/7/2018). Mereka resah menyusul berkurangnya atau bahkan tidak adanya pasokan ayam dari peternak.

Para pedagang yang datang mengendarai pikap lengkap dengan keranjang ayam itu sedianya ingin menyampaikan aspirasi kepada wakil rakyat di DPRD Boyolali mengenai nasib mereka. Namun niat mereka urung dilakukan karena pertimbangan perizinan.

Para padagang mengatakan, pasokan ayam potong yang mereka perolah langsung dari peternak besar terus berkurang sejak musim Lebaran. Puncaknya, mereka tidak memperoleh “jatah” dari peternak pada Jumat (20/7/2018).

“Kamis [pekan lalu] sudah sangat sedikit, Jumat [sehari berikutnya] bahkan kami sudah tidak mendapat jatah sehingga kami tidak bisa jualan. Sabtu kami mau ambil lagi tetapi jatah sudah berkurang dari biasanya dan harganya sudah naik,” ujar Fatkhurrahman, salah satu pedagang ayam yang memasok ayam dari wilayah Simo dan menyuplai pengecer di beberapa wilayah Boyolali.

Mereka juga mengungkapkan harga ayam terus merangkak naik dari yang sebelumnya antara Rp17.000-Rp18.000/kg (dari kandang) saat ini mencapai Rp24.000/kg. Akibatnya, mereka kesulitan menjual ayam ke pengecer.

Fatkhurrahman yang merupakan warga Tulung, Klaten ini menambahkan, pada hari biasa dia memasok ayam sekitar 1 ton. Namun sejak Sabtu pekan lalu hanya mendapat jatah 7 kuintal.

“Ayam yang kami peroleh juga sudah lewat masa panen, sehingga sulit dijual ke pengecer. Ya sudah kami tidak usah jualan sekalian,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu pedagang besar asal Sambi, Warsito mengakui dirinya juga resah karena tidak ada suplai ayam dari peternak.

“Ayam dari PT [perusahaan besar peternak ayam] memang sekarang ini sulit sekali didapat atau bahkan katanya sudah tidak. Kalaupun ada usia ayamnya sudah lewat masa panen. Jadi saya juga tidak bisa berdagang,” ujarnya di lokasi.

Sementara itu, salah satu peternak ayam potong mandiri, Sumadi mengatakan, saat ini produksi ayam memang menurun akibat pembatasan pemerintah tentang peggunaan antibiotik. Hal ini menyebabkan pertumbuhan ayam melambat dan untuk mencapai bobot ideal 1,5 kg-2 kg pada usia panen 35 hari sulit dicapai.

“Biasanya dalam waktu 35 hari ayam bobotnya sudah mencapai rata-rata 2 kg dan bisa dipanen. Tapi sekarang usia 42 hari kadang belum genap 2 kg,” kata pemilik kandang berkapasitas 16.000 ekor ayam asal Kaliwungu, Kabupaten Semarang ,ini yang kebetulan melintas di sekitar Menara Jagung.

Selain itu, harga pakan kian mahal. Dikatakannya, harga pakan dari Rp6.000/kg kini naik menjadi Rp7.000/kg.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali Juwaris mengakui saat ini ada penurunan produksi di peternak menyusul pembatasan penggunaan antibiotik dari pemerintah pada unggas.

“ Tapi ke depan ternak akan beradaptasi dengan pemakaian antibiotik terbatas sehingga produksi akan kembali,” ujarnya di Boyolali.