Warga Bantaran Solo Belum Pindah, Tak Punya Uang?

Kondisi rumah warga Kelurahan Nusukan, Banjarsari, terdampak proyek BBWSBS di Kedunggupit, Sawahan, Ngemplak, Boyolali, Senin (23/7 - 2018) siang. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
24 Juli 2018 05:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Sebagian besar warga Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Solo, yang terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3 (Kali Pepe Hulu) hingga kini belum juga pindah meski sudah mendapat dana bantuan sosial relokasi dari Pemkot Solo.

Mereka bahkan belum membangun rumah baru di lahan yang mereka beli untuk relokasi di RT 005/RW 008 Dusun Kedunggupit, Desa Sawahan, Ngemplak, Boyolali. Mereka padahal telah diminta pindah dari bantaran Kali Anyar itu sejak Februari-Maret lalu.

Tokopedia

Warga belum membangun rumah baru diduga karena mereka tak memiliki cukup uang. Dana bantuan sosial (bansos) relokasi yang mereka terima dari Pemkot Solo habis untuk membeli tanah serta mengurus administrasi sertifikasi tanah hingga membangun talut.

Karena itulah, warga tidak punya uang lagi untuk membeli bahan material guna membangun rumah baru. Berdasarkan pantauan Solopos.com, Senin (23/7/2018) pagi, baru ada 5 keluarga warga Nusukan yang telah tinggal di rumah baru di RW 008 Kedunggupit.

Mereka menempati rumah alakadarnya yang dibangun sebagian besar menggunakan bahan material bekas. Warga mendapatkan bahan material bekas berupa batu bata, kayu, genting, hingga besi-besi dari bongkaran rumah lama di bantaran Kali Anyar.

Sementara enam keluarga lainnya baru membangun fondasi rumah di Kedunggupit. Sisanya sebanyak 15 keluarga belum sama sekali mulai membangun rumah.

Seorang warga Kampung Praon, Nusukan, Sarjono, 51, bercerita dirinya membangun rumah baru di Kedunggupit menggunakan uang pinjaman dari mana-mana mulai dari menggadaikan BPKB sepeda motor, berutang ke pengurus pondok pesantren, hingga berutang kepada sanak saudara.

Dia menyebut dana bansos pemberian Pemkot tidak cukup untuk membangun rumah baru. Warga tinggal mengantongi dana sisa senilai Rp2,7 juta setelah selesai mengurus pembelian dan sertifikasi tanah seluas masing 4 meter (m) x 10 m di Kedunggupit.

“Baru lima keluarga yang tinggal di sini. Itu pun kami tinggal di rumah seadanya. Sedangkan warga lain belum mulai membangun rumah. Saya rasa kendalanya sama, soal uang. Saya ini membangun rumah juga dengan dana hasil berutang. Saya pikir lebih baik berhutang untuk bangun rumah ketimbang harus keluar uang terus untuk membayar kontrakan atau indekos,” kata Sarjono saat ditemui Solopos.com di ruamahnya, Senin.

Sarjono berharap Pemkot bisa membantu warga mengakses pinjaman uang ke bank. Dia menuturkan warga dibantu pengurus kelompok kerja (pokja) relokasi Nusukan sebenarnya telah mencoba mengakses pinjaman uang ke Bank Solo, tapi hingga sekarang belum mendapat kepastian apakah pengajuan mereka disetujui atau tidak.

Sarjono juga butuh dana pinjaman dari bank untuk menutup utang. Dia telah menyampaikan komitmen ingin melunasi utang dengan segera. Laki-laki yang setiap harinya bekerja sebagai petugas Supeltas di barat Simpang Joglo tersebut tak sanggup jika harus membayar utang dalam waktu dekat dengan uang hasil kerjanya.

Warga Nusukan lain yang telah tinggal di Kedunggupit, Joko Siswanto, 60, juga mengharap Pemkot Solo bisa membantu warga mengakses pinjaman uang ke bank dengan bunga rendah. Dia tak enak hati jika harus meminta Pemkot mengucurkan dana bantuan lagi untuk warga bantaran Kali Anyar yang terdampak proyek Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) tersebut.

Joko ingin mengakses pinjaman uang dari bank untuk memperbaiki rumah baru. Joko bersama istri dan anak-anaknya kini tinggal di rumah beralasakan tanah, belum berpintu, dan berdinding tripleks seadanya.

“Saya yakin semua warga yang terkena proyek kini sedang berharap adanya pinjaman uang untuk keperluan membangun rumah. Saya yakin kalau Bank Solo jadi mencairkan dana pinjaman, warga yang lain mulai membangun rumah di sini,” kata Joko yang sehari-harinya bekerja sebagai pengayuh becak di Pasar Klewer.