TPID Solo Siapkan Pasar Murah Daging Ayam

ilustrasi harga daging ayam. (Solopos/Dok)
24 Juli 2018 10:15 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Solo berencana menggelar pasar murah daging ayam. Hal itu dilakukan jika harga daging ayam  terus tinggi hingga beberapa waktu ke depan.

"Akan kami gelar pasar murah. Tapi kami akan menyelesaikan pasar murah untuk telur dulu. Kami juga akan terus mengamati perkembangannya [harga daging ayam]," kata Sekretaris II Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang juga Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Taufik Amrozy, Senin (23/7/2018).

Tokopedia

Taufik mengatakan berdasarkan pengamatannya ada persoalan yang sama antara produksi ayam potong dengan telur ayam ras. Di antaranya terkait adanya larangan penggunaan antibiotik pada pakan ternak, ketersediaan pakan ternak, faktor siklus, dan sebagainya.

"Ketika antibiotik dilarang, kemungkinan belum ada solusi untuk mencari penggantinya. Akibatnya berpengaruh pada daya tahan ternak. Hal tersebut dimungkinkan mengganggu produksi," kata dia kepada Solopos.com, Senin.

Di sisi lain, kata Taufik, masalah stok pakan kemungkinan juga berpengaruh. Pembatasan impor jagung kemungkinan juga dirasakan para peternak. Dalam mengelola ternak, pakan masih menjadi komponen terbesar.

"Jika barangnya kurang sedangkan kebutuhannya banyak tentu akan berpengaruh ke biaya," kata dia.

Faktor lainnya adalah siklus produksi. "Ada informasi harga bibit juga mahal. Hal itu juga mempengaruhi produksi," kata dia.

Jika hal tersebut memang menjadi faktor utama yang menyebabkan perubahan harga daging ayam potong maupun telur ayam ras, dia berharap segera ada solusi secara nasional. Solusi itu membutuhkan peran pemerintah pusat.

Berdasarkan komunikasi dengan sejumlah peternak atau pengusaha, Taufik mengatakan baik daging ayam  maupun telur ayam, stok di Solo dan sekitarnya saat ini masih mencukupi. Jika suplainya tidak ada masalah berarti demand yang harus dilihat.

"Seperti telur juga seperti itu. Di peternak barang tidak ada masalah, ternyata persoalan ada pada permintaan di pasar," kata dia.

Untuk itu TPID berupaya untuk mengontrol harga telur dengan kegiatan pasar murah. "Kami tidak bermaksud mematikan pedagang di dalam pasar, tapi kami ingin menunjukkan telur masih bisa dijual dengan harga wajar," kata dia.

Menurut Taufik, jika operasi pasar atau pasar murah untuk daging ayam dilakukan, mekanismenya akan sama pada pasar murah telur yang digelar saat ini. TPID akan bekerja sama dengan produsen untuk menyiapkan barang dan akan langsung dijual ke konsumen dengan harga yang lebih terjangkau.

Sebagai informasi, harga eceran tertinggi (HET) daging ayam adalah Rp32.000/kg. Terkait permintaan barang, ada kemungkinan peningkatan harga jual daging disebabkan banyaknya permintaan di pasaran.

Banyaknya warga masyarakat yang menggelar hajatan akan membutuhkan banyak daging ayam. Di sisi lain, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo, pada Juni 2018 terjadi inflasi sebesar 0,85%.

Menurut Kepala BPS Solo, R. Bagus Rahmat Susanto, ada beberapa komoditas penyumbang inflasi. Salah satu di antaranya adalah daging ayam ras. Harga daging ayam ras naik sekitar 7,75% dan memberi andil pada inflasi sebesar 0,09%.