75 Km Saluran Irigasi Waduk Cengklik Boyolali Tak Berfungsi

Kondisi saluran irigasi sekunder di Desa Donohudan, Ngemplak, Boyolali, memprihatinkan, Senin (23/7 - 2018). (Solopos/Aries Susanto)
24 Juli 2018 16:15 WIB Aries Susanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Saluran irigasi di wilayah Waduk Cengklik, Boyolali, khususnya saluran tersier dan sekunder dalam kondisi darurat. Tak kurang 75 km salurannya tak berfungsi secara normal bahkan sebagian besar mati total.

Penelusuran Solopos.com di sepanjang hulu hingga hilir, Senin (23/7/2018), saluran irigasi tersier di Desa Gagak Sipat sudah tak lagi terlihat karena tertimbun teras rumah-rumah warga. Celakanya, pintu pengatur air teronggok karatan layaknya monumen tak terawat.

Tokopedia

Di dalamnya, tertimbun sisa-sisa material dan sampah. Kondisi serupa juga terlihat di Desa Donohudan, tepatnya di Dukuh Ngemplak RW 005. Saluran air sekunder di sana pampat dipenuhi timbunan lumpur dan sampah.

Pintu airnya mirip bekas galian tanah yang jadi tempat pembuangan sampah. Di sana, bau bangkai busuk menyeruak dan dipenuhi lalat. Pintu pengatur airnya juga menjadi semacam monumen karatan di tengah bangunan rumah warga.

Sejumlah warga mengakui tak mengajukan izin ketika mendirikan bangunan di atas saluran irigasi. Suwito, salah satu warga RT 007/RW 005 membangun teras rumahnya di atas saluran irigasi sejak lima tahun lalu selepas menerima uang kompensasi pembebasan lahan tol Solo-Kertosono.

"Saya sudah mengajukan izin ke PSDA, namun enggak ada jawaban. Ya udah saya bangun saja," kata dia saat berbincang dengan Solopos.com.

Suwito mendengar kabar untuk mengurus izin mendirikan bangunan di atas saluran irigasi memang tak mudah. Namun, karena enggak ada yang protes dan tak ada petugas yang melarang, dia nekat membangun di atasnya.

"Saya dibilangin bahwa proses pengajuan izin lama sekali. Bahkan mungkin enggak diizinkan," kata dia.

Suwito memanfaatkan bangunan di atas saluran irigasi untuk usaha jual beli kayu dan persewaan kajang. Di samping saluran irigasi, ia dirikan bangunan rumah dua lantai.

Tak hanya Suwito, Syamsul, warga Donohudan, juga melakukan hal serupa. Di atas saluran irigasi, dia bangunan teras untuk sejumlah usaha.

Syamsul mengaku tak minta izin dulu ke PSDA untuk mengecor teras di atas saluran irigasi. Ia mengaku hanya izin lisan ke pegawai kelurahan dan diperbolehkan.

"Syaratnya, tidak boleh mengurangi lebar saluran irigasi. Makanya, saya cor di atasnya," jelasnya.

Titis Suci Sukmawati, salah satu warga pengguna deretan ruko di atas saluran yang pampat itu, mengeluhkan kondisi saluran. Selain menimbulkan aroma bau tak sedap, saar hujan air membanjir ke ruko yang ia sewa.

"Saya hanya menyewa ruko ini. Ya, sangat prihatin sih, saluran irigasinya jadi tempat pembuangan sampah. Padahal, baunya minta ampun," jelasnya.