Bakul Ayam Crispy Boyolali Terpaksa Setop Jualan

Pedagang ayam crispy dikawasan Pasar Pengging, Banyudono, Boyolali, melayani pembeli, Selasa (24/7 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
24 Juli 2018 15:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Sebagian pedagang ayam goreng tepung atau yang dikenal dengan ayam crispy di wilayah Boyolali tiarap menyusul kelangkaan daging ayam.

Salah satu pedagang ayam crispy di wilayah Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali, Bukhori, 19, tak lagi berdagang sejak Selasa (24/7/2018) karena tidak mendapat pasokan dari pedagang ayam di pasar. Menurutnya, ayam sebagai bahan utama dagangannya sehingga ketika dia tak mendapat pasokan ayam, praktis dia tidak bisa berdagang.

“Hari ini [kemarin] sudah tidak ada ayam. Ya sudah mau gimana lagi, saya tutup,” ujarnya saat ditemui, Selasa.

Laki-laki asal Sragen ini mengaku tak hanya dia yang tutup. Sedikitnya 10 temannya sesama penjual ayam  crispy asal Bumi Sukowati yang beroperasi di Boyolali mengandangkan gerobak mereka.

“Ada sepuluhan lah teman saya dari Sragen yang tutup mulai hari ini [kemarin] karena di mana-mana enggak ada ayam,” imbuh dia.

Menurutnya, di wilayah Boyolali terdapat sekitar 60 warga Sragen yang berdagang ayam crispy. Mereka tersebar di pusat-pusat keramaian di berbagai wilayah.

Bukhori mengatakaan kelangkaan daging ayam ini dirasakan sejak Lebaran. Menurutnya, saat itu dia masih memasok 10 ekor ayam per hari, sedangkan saat itu pasokan ayam hanya 7 ekor.

“Itu pun harganya sudah naik. Hari ini malah sudah tidak ada sama sekali,“ ulangnya.

Saat ini dia hanya pasrah tak tahu kapan akan memulai usahanya lagi karena hal itu tergantung ketersediaan ayam. “Enggak tahu kapan jualan lagi. Kalau sudah ada ayam harganya tidak terlalu mahal ya jualan lagi.”

Sementara itu, pedagang ayam crispy yang masih buka mengaku harus menaikkan harga jual untuk mengimbangi harga bahan (ayam) yang semakin meroket. Tia, 18, pedagang di kawasan Pasar Pengging, Banyudono, mengatakan harga jual ayam crispy saat ini antara Rp3.500-Rp4.000 per biji.

Sebelumnya, dia menjual pada kisaran Rp2.500-Rp3.500. “Daging ayam sekilo harganya sudah di atas Rp32.000/kg. Harga jual ayam cripsy harus naik karena harga daging ayam juga sudah naik banyak. Apalagi saya juga harus setoran ke juragan.

Meski sangat mahal, dia enggan menaikkan harga jual terlalu tinggi karena akan ditinggal pelanggan. Dia rela mengurangi keuntungannya agar usahanya tetap berjalan. “Untung sedikit enggak apa-apa lah. Yang penting bisa makan,” kata dia.

Para pedagang tersebut berharap ketersediaan daging ayam dan harganya segera kembali normal sehingga usaha mereka bisa berjalan kembali dengan baik. Sementara itu, salah satu pembeli ayam crispy milik Tia, Sigit S., mengaku sangat menyayangkan kenaikan harga ayam di pasaran karena berpengaruh terhadap semua makanan yang berbahan ayam.

“Saya sering beli ayam crispy untuk lauk anak-anak karena praktis. Tapi kalau harganya naik begini kan berat juga. Yang biasanya Rp10.000 dapat empat potong sekarang hanya tiga potong,” kata dia.