Inspiratif, Warga Klaten Ubah TPS Jadi Kebun Sayur

Warga memetik cabai dan tomat di kebun Dukuh Pandanan, RT 012/RW 005 Desa Pandanan, Kecamatan Wonosari, Klaten, Senin (23/7 - 2018). (Istimewa/Nela Hermawati)
24 Juli 2018 14:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi itu menghijau dengan banyaknya tanaman sayuran seperti tomat, cabai, dan buah jambu. Di samping kebun, bangku-bangku dari bambu dibangun di sela-sela wahana bermain anak.

Setahun lalu, pemandangan di lahan yang terletak di Dukuh/Desa Pandanan, Kecamatan Wonnosari, Klaten, itu tidak lah sehijau itu. Dulu, lahan itu adalah tempat pembuangan sampah (TPS) tak resmi. Selain sampah tumah tangga, ban-ban bekas juga bertebaran di lokasi itu.

Tokopedia

Baru pada Desember 2017 warga setempat berkomitmen gotong royong membersihkan lahan tersebut. “Kami bekerja bakti, bersih-bersih selama enam bulan berturut-turut. Kami bakari ban-ban bekas. Hasilnya ada taman bambu di sini,” kata Ketua RT 012/RW 005, Dukuh Pandanan, Desa Pandanan, Kecamatan Wonosari, Tri Widianto, saat ditemui Solopos.com di desa setempat, Minggu (22/7/2018).

Seusai membikin taman, warga membikin kebun sekitar empat bulan lalu. Tanah kas desa yang mangkrak diolah dan ditanami pohon jambu batu. Di sela-selanya ditanami aneka sayuran dan pohon cabai serta tomat dengan sistem tumpangsari.

Laki-laki bertugas mengolah tanah termasuk membikin bedengan. Sedangkan ibu-ibu ambil bagian dalam merawat, menyiram, dan memanen hasil kebun. Kegiatan itu menggerakkan setidaknya 25 dari total 55 keluarga di RT tersebut.

“Semuanya swadaya  oleh warga. Hasilnya secara keseluruhan masuk ke kas RT. Tak ada serupiah pun ke kantong pribadi,” terang Tri.

Dalam sehari, kebun itu bisa panen hingga lima kilogram (Kg). Dana disetorkan dalam pada pertemuan RT tiap bulan. Hasilnya, RT bisa mengantongi Rp2,5 juta per bulan dari hasil panen cabai dan tomat.

“Alokasinya untuk apa saja nanti dimusyawarahkan dengan warga. Pada intinya dari warga oleh warga untuk warga. Pengembangannya mungkin untuk pembangunan fasilitas umum dan lainnya,” beber Tri.

Tanah yang digunakan, lanjut Tri, adalah tanah kas desa yang tidak produktif. Tanah itu dipinjamkan kepada RT 012/RW 005 selama dua tahun secara gratis. Pengurus RT dipersilakan memberikan dana kontribusi ke desa jika dinilai hasilnya memadai.

“Yang penting saat ini adalah mengguyubkan warga dulu. Fokus kami adalah mengembangkan agrowisata dengan komoditas jambu biji. Sekarang ini masih tumpangsari,” terang Tri.

Kepala Desa Pandanan, Kecamatan Wonosari, Sugijo, mengapresiasi  kegiatan warga RT 012/RW 005, Desa Pandanan, itu. Tanah itu dulunya tidak produktif. Ia senang tanah itu kini lebih asri dengan taman jati dan kebun hortikultura.

“Ke depan, kawasan ini akan saya kembangkan sebagai destinasi wisata. Sudah ada kajiannya. Tinggal pengalokasian anggaran. Kebun dan taman yang kini ada menjadi langkah maju pengembangan desa wisata di Pandanan,” kata Sugijo.