2 SDN di Solo Ini Bakal Hilang Tahun depan

Ilustrasi pelajar (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
25 Juli 2018 09:00 WIB Insetyonoto Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dua sekolah dasar negeri (SDN) di Kota Solo akan hilang tahun depan. Dua SDN ini terpaksa digabung dengan sekolah  lain karena kekurangan murid.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Solopos.com dari Dinas Pendidikan (Disdik) Solo dua sekolah itu masing-masing SDN Cakraningratan di Jl. Haryo Panular, Laweyan, yang digabung ke SDN Sriwedari di Jl. Kebangkitan Nasional, Laweyan, serta SDN Belik di Jl. Surya, Purwodingratan, Jebres, yang digabung dengan SDN Bororejo di Jl. Kali Sampang, Jagalan, Jebres.

Tokopedia

Kepala Bidang Pendidikan Dasar SD Disdik Solo, Wahyono, mengatakan penggabungan dua SDN tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari Wali Kota Solo melalui SK No. 421/27/2018. “Penggabungan dua SDN [SDN Cakraningratan dan SDN Belik] ini untuk efisiensi dan efektivitas pengelolaan sekolah,” kata dia ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Selasa (24/7/2018).

Berdasarkan catatan Disdik, SDN Cakraningratan hanya memiliki siswa kelas I-VI sebanyak 79 anak, sedangkan SDN Belik hanya memiliki siswa kelas I-VI sebanyak 78 anak.

Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan (Permendikbud) No. 17/2017, jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar (rombel) atau kelas paling sedikit 20 siswa. Kalau ada enam kelas di satu SD berarti mestinya total ada 120 siswa.

Kondisi jumlah siswa yang minim ini akan menyulitkan guru memenuhi ketentuan mengajar selama 20 jam dalam sepekan untuk mendapatkan tunjangan profesi guru. Guru SDN Cakraningratan akan digabung ke SDN Sriwedari dan guru SDN Belik digabungkan ke SDN Bororejo.

“Adanya pengabungan sekolah ini juga untuk memudahkan sertifikasi guru serta mengatasi kekurangan guru SD,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wahyono mengatakan penggabungan ini aka memudahkan pengelolaan sekolah sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan. Menurut dia, penggabungan SDN ke depan masih mungkin terjadi karena masih ada sejumlah sekolah di Solo yang jumlah siswanya minim.

Mengenai pemanfaatan bangunan bekas SDN Cakraningratan dan SDN Belik, Wahyono menyerahkan pada kewenangan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo selaku pemilik aset.

“Aset bangunan SDN Cakraningratan dan SDN Belik bukan milik Disdik, tapi milik Pemkot Solo. Pak Wali [Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo] sudah memiliki rencana, misalnya untuk taman cerdas,” ungkapnya.

Dia menambahkan pada penerimaan peserta didik baru (PPBD) SD tahun ajaran 2018-2019 ada 28 SD negeri dan swasta yang tidak bisa memenuhi target minimal 20 orang per rombel.

“Dari data yang masuk ke-28 sekolah itu tersebar di Kecamatan Serengan empat sekolah, Kecamatan Laweyan 11 sekolah, dan Kecamatan Pasar Kliwon 13 sekolah,” jelasnya.