Puluhan SDN Solo Belum 5 Hari Sekolah

Ilustrasi pelajar (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
25 Juli 2018 10:25 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Puluhan SDN di Kota Bengawan diketahui belum menerapkan lima hari sekolah pada tahun ajaran 2018/2019. Dinas Pendidikan  (Disdik) menargetkan dua sampai tiga tahun kedepan semua SDN di Kota Solo sudah menerapkan lima hari sekolah.

“Tahun ajaran 2017/2018 ada 52 SDN di Kota Solo yang belum menerapkan lima hari sekolah. Tahun ajaran 2018/2019 ada SDN yang baru menerapkan lima hari sekolah. Kami memperkirakan masih ada puluhan sekolah yang belum menerapkan lima hari sekolah sampai sekarang,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar (Dikdas) SD Dinas Pendidikan (Disdik) Solo, Wahyono, saat dihubungi Solopos.com, Selasa (24/7/2018).

Wahyono mengungkapkan Disdik belum selesai melakukan pendataan berapa sekolah  yang belum menerapkan lima hari sekolah tahun ajaran 2018/2019. Sekolah yang menerapkan lima hari sekolah tahun ajaran baru ini di antaranya SDN 16 Mangkubumen Kidul, SDN 15 Mangkubumen Lor, dan SDN Sayangan Laweyan.

“Kami mendata di tingkat kecamatan SDN yang sudah menerapkan lima hari sekolah yakni Pasar Kliwon dan Laweyan. Tiga kecamatan lainnya Serengan, Banjarsari, dan Jebres belum semua,” kata dia.

Ia menargetkan dua sampai tiga tahun ke depan semua SDN di Kota Solo harus sudah menerapkan lima hari sekolah. Hal tersebut sesuai penerapan kurikulum 2013 (K13) yang diberlakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Seorang guru SDN Sayangan Laweyan, Sardianto, mengungkapkan SDN Sayangan baru sepekan menerapkan lima hari sekolah selama sepekan. Dalam sepekan itu, orang tua siswa banyak yang belum bisa mengikuti kebijakan baru tersebut. Namun itu dinilai sangat wajar karena baru kali pertama diterapkan.

“Orang tua siswa harus menyediakan makan siang setiap hari. Jam jemput sekolah juga berubah dari sebelumnya pukul 13.15 WIB sekarang 14.25 WIB. Kami bersama orang tua sebelum menerapkan kebijakan ini sudah sepakat bersama menerapkan lima hari sekolah,” ujar Sardianto saat ditemui Solopos.com di sekolah tersebut.

Sardianto menjelaskan tidak ada perbedaan dalam sistem pembelajaran dari enam hari sekolah ke lima hari sekolah. Perbedaannya hanya soal waktu. Ia mengaku ada banyak kelebihan dalam menerapkan lima hari sekolah di antaranya siswa bisa lebih maksimal belajar di sekolah tanpa harus mengikuti les di tempat lain, guru bisa mengawasi ibadah siswa di sekolah, siswa tidak lagi dibebani pekerjaan rumah (PR).

“Kami sekarang bisa memaksimalkan kemampuan untuk mengajar siswa di kelas. Siswa pun bisa mengeluarkan semua potensinya dengan cara komunikasi dua arah. Sekolah kedepan tetap melakukan evaluasi terkait kebijakan ini,” kata dia.