Pesona Candi Lawang dan Candi Sari Boyolali

Salah satu bagian Candi Sari di Desa Gedangan, Boyolali, Selasa (24/7 - 2018). (Solopos/Mariyana Ricky P.D.)
25 Juli 2018 11:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Candi ini dulunya bernama Candi Sono yang dalam bahasa Jawa Kuno artinya anjing. Dikeramatkan oleh warga setempat, Candi  Sari dibangun di bukit yang lebih tinggi dari jalanan sekitar.

Berlatar belakang Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, candi di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, sekitar 15 kilometer dari pusat kota Boyolali ini hanya ditemukan bagian dasarnya. Panjang candi sekitar empat meter dengan tinggi satu meter serta dilengkapi empat stupa kecil di keempat ujungnya.

Temuan arca Durga, Ganesha, dan Agastya menandakan ini adalah candi Hindu. Selain itu ada pula arca Nandi, sapi kendaraan Dewa Shiwa, serta lingga dan yoni. Candi Sari memiliki ikon pohon beringin besar berumur ratusan tahun.

Tokopedia

Namun, saat Solopos.com mengunjungi  candi itu, Selasa (24/7/2018), pohon itu sudah tumbang namun batangnya masih dapat dijumpai di sekitaran Candi Sari.

Berdasar catatan sejarah yang dihimpun Solopos.com, candi tersebut kali pertama ditemukan pada 1967. Bukit di tempat Candi Sari berada dipercaya sebagai sumber mata air bagi penduduk setempat.

Candi Lawang di Boyolali. (Solopos-Mariyana Ricky  P.D.)

Hal itu membuat situs candi dikeramatkan oleh warga. Untuk berkunjung ke sini, pengunjung tak perlu membayar tiket masuk. Momen yang tepat untuk berkunjung adalah pada sore hari sembari menantikan tenggelamnya matahari di antara dua gunung Merapi dan Merbabu.

Jika kebingungan arah menuju Candi Sari, pengunjung bisa menanyakannya kepada penduduk setempat dari Pasar Cepogo. Bisa juga memanfaatkan map daring dari Google atau Google Map.

Selain Candi Sari, Candi Lawang yang berjarak lima kilometer tepatnya di Dusun Dangean, Desa Gedangan, tak kalah indah. Posisinya sedikit tersembunyi karena berada persis di belakang rumah warga.

Sama seperti Candi Sari, tak ada tiket masuk bagi pelancong. Di situs ini ditemukan lima struktur bangunan, yakni candi induk dan empat candi perwara. Pada candi induk masih dapat dijumpai batur, kaki, tubuh bawah, dan pintu. Sementara empat struktur bangunan lainnya hanya tersisa fondasi dan bagian atas bangunan.

Temuan yoni di sekitar situs menandakan candi ini adalah candi Hindu. Waktu pembangunan Candi Lawang tidak diketahui pasti. Secara relatif, periodisasi candi dapat diketahui dari langgam bangunan.

Langgam bangunan dapat ditentukan berdasarkan bentuk perbingkaian bagian kaki candi dan bagian tubuh bawah yang berbentuk genta dan setengah lingkaran. Berdasarkan langgam tersebut periodisasi situs Candi Lawang dapat diketahui yakni antara 750-800 Masehi.

Ragam penghias bangunan ornamental Candi Lawang berupa antefiks dan hiasan untaian bunga serta hiasan geometris antara lain motif gawang (kotak-kotak). Candi perwara di sebelah utara dan selatan berdenah bujur sangkar, sedangkan di sebelah timur berdenah persegi panjang.

Temuan arca di sekitar Candi Lawang selain yoni, ada arca Agastya dan arca Durga yang kini disimpan di Museum Radya Pustaka Solo.