Warga Klaten Setop Paksa Pengaspalan Jalan Tak Sesuai Spek

Kondisi jalan yang dikeluhkan warga karena tak sesuai spek di Dukuh Bendan, RT 004/RW 001, Desa Trunuh, Klaten Selatan, Rabu (25/7 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
25 Juli 2018 18:45 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sekelompok warga menghentikan pengaspalan jalan kampung  di Dukuh Bendan, Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Selasa (24/7/2018). Warga tidak puas atas hasil pengaspalan jalan yang dinilai buruk dan tak sesuai spesifikasi teknis.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, jalan kampung itu sebetulnya diperbaiki sekitar 3-4 hari lalu. Karena hasilnya dinilai buruk, warga mengajukan komplain kepada kepala desa dan minta perbaikan ulang sesuai standar.

Komplain warga salah satunya adalah soal ketebalan aspal yang hanya satu sentimeter (cm) dari yang direncanakan dua cm. Selain itu, lebar jalan yang diaspal bervariasi ada yang 1,5 meter (m), 2 m, hingga 3 m.

Tak hanya itu, warga memprotes tidak adanya papan nama yang menjelaskan soal nama proyek, panjang ruas jalan, ketebalan aspal, waktu pengerjaan, biaya, hingga nama pelaksana pekerjaan.

Proyek perbaikan jalan itu meliputi enam ruas jalan di tiga dukuh yakni Bendan, Mranggen, dan Mayungan. Ketebalan aspal mestinya dua cm dengan panjang total 816 m dengan lebar antara 2,2 m hingga 2,75 m. Perbaikan menggunakan dana desa 2018 senilai total Rp118.125.000.

Kades memenuhi permintaan warga dengan memperbaiki jalan itu pada Selasa (24/7/2018) pagi. Namun, warga menghentikan perbaikan jalan karena belum menerima klarifikasi Kades atas komplain sebelumnya.

“Warga menuntut keterangan dari Kades soal proyek itu misalnya berapa tebalnya, bagaimana kualitas aspal, berapa anggaran, dan lainnya. Kalau itu belum dijawab, jangan diperbaiki dulu,” kata Ketua RT 004/RW 001, Dukuh Bendan, Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Mardiyono, saat ditemui wartawan di rumahnya, Rabu (25/7/2018).

Dalam upaya penghentian perbaikan jalan itu sempat terjadi adu mulut antara warga dengan Kades. Warga mempertanyakan kualitas aspal yang dipakai untuk perbaikan jalan.

Kades menjawab kualitasnya nomor 1. Sedangkan yang dikirim adalah kualitas nomor 3. Kades menuding kontraktor pelaksana salah mengirimkan material.

Warga lalu meminta konfirmasi kepada perwakilan kontraktor yang hadir di lokasi. Kontraktor menjawab kualitas aspal sudah sesuai pesanan.

“Saya dengar Kades mau mengganti aspal sesuai standar yang diminta warga. Dari dulu Pemdes dengan RT enggak pernah ada komunikasi soal pembangunan fisik. Baru kali ini ada komplain warga,” urai Mardiyono.

Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Trunuh, Sukarno, menjelaskan komplain warga soal pengaspalan jalan terjadi lantaran kurang komunikasi antara Pemdes dengan warga. Ia menuturkan soal penunjukan kontraktor dilakukan oleh Kades, bukan oleh TPK.

“Yang saya tahu, itu pakai dana desa 2018. Nominalnya berapa saya enggak tahu,” kata dia.

Kades Trunuh, Sumarwanto yang akrab disapa Marwan, mengatakan setelah penghentian perbaikan jalan oleh warga, Pemdes menggelar dialog dengan warga dihadiri camat, babinsa, bhabinkamtibmas, dan perangkat desa pada Selasa malam.

Ia menjelaskan soal papan nama, Pemdes memang tak pernah membikin dalam pelaksanaan proyek fisik. Namun, Pemdes selalu bikin prasasti. Ia tidak tahu apakah pembikinan papan nama itu wajib atau tidak.

“Kami mau konfirmasi dulu ke dinas terkait soal hal ini. Kalau wajib, akan kami lakukan di setiap proyek,” ujar dia.
Marwan menambahkan permasalahan komplain warga sudah klir. Pemdes menginstruksikan kepada kontraktor agar memperbaiki jalan tersebut. Perbaikan jalan itu jelek lantaran sejumlah alat berat yang dikirimkan terlalu besar untuk jalan kampung. Akibatnya, ketebalan aspal tidak merata.

“Saya sudah hubungi kontraktor agar memperbaiki jalan. Kontraktor menyatakan siap,” tutur Kades.