PT RBI Wonogiri Perusahaan Ekspor Tapi Nunggak Gaji Buruh

Tempat produksi PT Rojo Busana Indonesia (RBI) Wonogiri di Bulusari, Bulusulur, Kecamatan Wonogiri, tutup, Rabu (25/7 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
25 Juli 2018 20:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Masalah gaji pekerja yang belum dibayarkan oleh PT Rojo Busana Indonesia (RBI) Wonogiri hingga akhirnya para karyawan beramai-ramai mendatangi perusahaan itu, Selasa (24/7/2018), ternyata bukan kali pertama ini terjadi.

Sekitar dua tahun lalu, produsen pakaian ekspor ini juga pernah menunggak gaji karyawannya. Namun, permasalahan tersebut dapat diselesaikan secara internal.

PT RBI merupakan perusahaan pembuat baju segala model, kemeja, dan celana bahan denim untuk laki-laki dan perempuan dewasa. Produknya diekspor ke Arab Saudi, Yordania, Turki, dan Malaysia.

RBI memiliki dua tempat produksi di Wonogiri, yakni di Bulusari RT 002/RW 003, Bulusulur, Kecamatan Wonogiri, dan Pakem RT 001/RW 001, Mlopoharjo, Wuryantoro. Karyawan di Bulusari lebih kurang 65 orang, sedangkan di Pakem ada 100 orang.

Dua pekan terakhir para pekerja diliburkan karena produksi pakaian dihentikan setelah muncul masalah gaji pekerja yang belum dibayarkan. Hak yang belum dibayarkan meliputi gaji dua bulan, upah lembur, dan tunjangan hari raya (THR) Lebaran lalu. Hak masing-masing pekerja yang belum dibayarkan rata-rata Rp4 juta.

Kepala Desa (Kades) Bulusulur, Dwi Prasetya, yang ditemui Solopos.com, Rabu (25/7/2018), menyayangkan terjadinya masalah yang dihadapi pekerja RBI. Tak sedikit warganya yang menjadi pekerja di perusahaan yang berdiri empat tahun lalu itu.

Sebelum pekerja mendatangi perusahaan  di Bulusulur untuk menanyakan kejelasan pembayaran gaji, Selasa, ada pekerja yang juga warganya mengadu kepadanya.

Warga bersangkutan memberi tahu kepadanya dia dan rekan-rekannya akan menggelar demonstrasi di tempat produksi PT RBI untuk menuntut dua bulan gaji mereka. Kades saat itu meminta mereka tak menggelar demonstrasi dan akan memfasilitasi pertemuan antara pekerja dengan perusahaan. Dengan bertemu dan berunding diharapkan ada solusi.

“Namun, ternyata tahu-tahu ada aksi kemarin [Selasa] itu. Disnaker [Dinas Tenaga Kerja] juga ikut turun tangan. Semoga masalah cepat selesai sehingga usaha bisa dijalankan lagi, pekerja bekerja lagi, dan roda ekonomi berputar lagi,” kata Kades saat ditemui Solopos.com di kantornya.

Keberadaan PT RBI di Bulusulur membawa dampak positif. Warga sekitar perusahaan dan sekitar Bulusulur yang sebelumnya menganggur bisa bekerja di perusahaan konfeksi tersebut. Warga juga ada yang membuka warung dan tempat indekos.

Perekonomian warga pun meningkat. Dia menyayangkan apabila perusahaan tak beroperasi lagi.

Dia mengatakan masalah serupa pernah terjadi dua tahun lalu. Kala itu pekerja menuntut gaji yang belum dibayarkan agar segera dipenuhi. Pemerintah desa mempertemukan kedua pihak hingga akhirnya terjadi kesepakatan. Perusahaan memenuhi tuntutan pekerja. Setelah itu usaha berjalan seperti biasa.

“Usaha RBI awalnya di sebuah gudang [Bulusari, Bulusulur]. Waktu itu pekerjanya belum sebanyak seperti sekarang. Seiring berjalannya waktu usaha berkembang. Lalu pihak perusahaan menyewa bekas SMA Kanisius yang sekarang ditempati. Beberapa tahun kemudian RBI mendirikan tempat produksi di Wuryantoro,” ucap Kades.

Pantauan Solopos.com, Rabu, tidak ada aktivitas apa pun di tempat produksi di Bulusari. Pagar terkunci sehingga Solopos.com hanya bisa mengamati dari luar.

Salah satu pekerja RBI Bulusari, Suharni, 43, mengatakan para pekerja diliburkan sampai batas waktu yang belum diketahui. Dia berharap perusahaan segera membayarkan dua bulan gaji yang belum dipenuhi.

“Tahun lalu THR dikasih bertahap. Pertama Rp1 juta/pekerja. Lalu yang Rp300.000 diberikan secara dicicil selama tiga bulan. Selama dibayarkan semua enggak masalah,” kata dia.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Wonogiri, Eko Subagyo, menyampaikan perizinan PT RBI tak ada masalah. RBI awalnya milik perorangan lalu menjadi perseroan terbatas. “RBI modal dalam negeri. Pemiliknya orang Wonogiri,” terang Eko.

Terpisah, pemimpin PT RBI, Nina Nur Wijayanti, saat dihubungi untuk dimintai konfirmasi, Rabu, tak mengangkat telepon. Sebelumnya, Kepala Produksi RBI, Lasmi, menyatakan pimpinan perusahaan akan membayarkan gaji karyawan yang tertunggak pada 30 Juli.

Dia meyakini atasannya akan menepati janji. Janji gaji akan dibayarkan pada Selasa belum bisa direalisasikan karena perusahaan memiliki kendala. Hanya, Lasmi tak menjelaskan lebih jauh apa kendala dimaksud.

Berikut beberapa fakta soal PT RBI yang berhasil dihimpun Solopos.com:
Izin berdiri PT di Bulusari, Bulusulur, Kecamatan Wonogiri, pada 2015
- Nilai investasi Rp2,35 miliar
- Modal dalam negeri
- Pemilik/penanggung jawab Nina Nur Wijayanti
- Bidang usaha konfeksi
- Izin berdiri PT di Pakem, Mlopoharjo, Wuryantoro, pada 2017 dengan nilai investasi Rp1,27 miliar

Sumber: Dinas PMPTSP Wonogiri.