Kena Jembatan Gantung Solo-Sukoharjo, 5 Keluarga Minta Relokasi

ilustrasi jembatan gantung. (Solopos/Dok)
26 Juli 2018 06:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Lima keluarga di dekat Sungai Bengawan Solo kemungkinan besar terdampak proyek pembangunan jembatan gantung penghubung Sewu, Solo-Mojolaban, Sukoharjo yang diperkirakan dibangun tahun ini. Mereka meminta direlokasi ke lahan yang representatif dan bebas banjir.

Jarak kelima rumah di Mojolaban, Sukoharjo, itu dengan bibir sungai sekitar 20 meter. Kelima rumah itu terletak di pinggir jalan setapak menuju jembatan sesek.

Saat intensitas hujan tinggi selama berjam-jam, air sungai meluap dan merendam kelima rumah itu. Biasanya, warga setempat mengungsi dan bermalam di tanggul sungai.

Apabila proyek pembangunan jembatan gantung direalisasikan otomatis melewati lahan dan rumah penduduk yang letaknya dekat dengan bibir sungai. Lahan dan rumah penduduk yang terdampak proyek pembangunan jembatan gantung milik Giyarto, Giyanto, Nanik, Warsono dan Sarsiti.

Mereka tidak mempermasalahkan pembangunan jembatan  gantung sebagai akses utama penghubung antarwilayah Solo dan Sukoharjo. “Belum ada sosialisasi dari pemerintah ihwal rencana pembangunan jembatan. Namun, warga setempat sudah tahu informasi itu [rencana pembangunan jembatan],” kata Warsono, saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (25/7/2018).

Menurut Warsono, jembatan permanen sangat dibutuhkan baik warga Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, maupun Kelurahan Sewu, Jebres. Selama ini, mereka terpaksa melewati jembatan sesek.

Saat musim penghujan, jembatan yang terbuat dari anyaman bambu itu kerap hanyut diterjang derasnya arus sungai. Kendati menyambut positif, Warsono meminta agar pemerintah memikirkan nasib dan kelangsungan hidup warga terdampak proyek pembangunan jembatan gantung.

“Saya minta agar pemerintah merelokasi warga terdampak proyek pembangunan  jembatan. Kalau bisa di daerah yang bebas banjir,” ujar dia.

Warsono menyampaikan sejumlah petugas dari pemerintah pusat telah melakukan pengukuran panjang dan lebar jembatan pada 2016. Namun, ia belum mengetahui secara jelas kapan proyek pembangunan jembatan mulai dikerjakan.

Sementara itu, warga setempat lainnya, Giyarto, berharap pemerintah memberi kompensasi lahan dan rumah warga terdampak proyek pembangunan jembatan gantung. Namun, ia belum mengetahui nilai kompensasi yang diminta warga setempat.

Giyarto dan warga setempat lainnya mendukung pembangunan jembatan gantung lantaran menjadi solusi jangka panjang. “Saya yakin pasti ada kompensasi yang diberikan kepada warga terdampak pembangunan jembatan. Pindah rumah kan butuh biaya, belum lagi saat membangun rumah baru,” kata dia.