Investasi Rumah Sakit Serbu Solo

ilustrasi investasi. (Solopos/Dok)
27 Juli 2018 14:15 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah investor  mengaku tertarik menanamkan modal di Kota Solo. Kebanyakan dari mereka bergerak di bidang kesehatan dengan maksud mendirikan rumah sakit di beberapa wilayah Kota Bengawan.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Solo, Toto Amanto, mengatakan sejumlah investor besar berminat untuk berbisnis di sektor kesehatan dan pendidikan. Menurutnya, dua sektor ini bisa ditempatkan di mana saja lantaran ini langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat.

Namun demikian, kebanyakan yang datang adalah investor di bidang kesehatan. “Ada yang baru menyampaikan secara lisan ke saya mau bikin rumah sakit di wilayah utara. Ini investor besar yang sedang penjajakan,” tuturnya kepada Solopos.com, belum lama ini.

Saat ini di wilayah utara kebanyakan investor  yang masuk adalah di bidang properti. Pihak ketiga itu tercatat tengah mengurus izin keterangan rancangan kota (KRK).

Selain itu, ada pula rumah sakit yang mau masuk di wilayah selatan, Pajang (Laweyan), dan di barat Samsat (Kelurahan Jajar). Namun demikian, mereka terkendala izin karena wilayah tersebut masuk area pertanian merujuk pada Peraturan Daerah (Perda) No. 1/2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Pada Pasal 48 ayat (2) disebutkan Kecamatan Laweyan masuk lahan pertanian basah. Perinciannya sawah di kawasan II seluas 32 hektare, yakni di Kelurahan Karangasem seluas 24 hektare dan Kelurahan Jajar seluas 8 hektare.

Selain kesehatan, ada pula investor baru yang sedang proses pengurusan, seperti kelengkapan dokumen, antara lain pendirian apartemen untuk mahasiswa di kawasan ring road utara dan hotel di wilayah Laweyan.

Hunian untuk segmen mahasiswa ini tengah proses pengurusan izin KRK. Sedangkan hotel baru di Laweyan nantinya setinggi 10 lantai. Namun demikian, tahapannya masih panjang karena hotel ini merenovasi bangunan lama.

“Pada intinya kami terbuka untuk siapa saja yang mau berinvestasi sesuai misi Pemkot yang proinvestasi. Namun demikian, ada hal-hal yang harus diperhatikan, yakni tata ruang kota dan peruntukannya,” jelasnya.

Dinas Penanaman Modal dan PTSP Solo mencatat hingga Juni 2018 investasi yang masuk mencapai Rp1,249 triliun. Angka ini didapat dari 607 perusahaan.

Sedangkan pada 2017 lalu ada 414 investor yang masuk dengan nilai investasi sebesar Rp2,556 triliun. Ini meliputi usaha mikro, kecil, menengah, dan besar.