Belajar Hidup Bersahaja dari Mbah Legi Klaten

Legiman, warga Dukuh Dipan, Desa Troketon, Pedan, Klaten. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
27 Juli 2018 10:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Legiman atau yang akrab disapa Mbah Legi duduk seorang diri di bangsal Makam Plosorejo, perbatasan Desa Troketon dan Desa Kalangan, Kecamatan Pedan, Klaten.

Mengenakan kaus serta celana lusuh, pria yang diperkirakan berusia 90 tahun itu baru saja terbangun dari tidurnya yang beralaskan lantai bangsal berdebu saat Solopos.com mendatanginya, Kamis (26/7/2018) siang.

Tokopedia

Matanya memicing berusaha mengenali orang yang mendatanginya. Ketika disapa, Mbah Legi hanya terdiam dan sesekali tersenyum. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berusaha menangkap suara.

Setelah berulang kali diajak mengobrol dengan suara agak dikeraskan, Mbah Legi baru buka suara. “Mbah,” jawab Mbah Legi ketika Solopos.com mencoba menanyakan kondisi kesehatannya.

Mbah Legi lantas membuka pintu kayu salah satu makam tak jauh dari tempat duduknya. Makam itu adalah Makam Ki Ageng Trokecun yang dipercaya sebagai cikal bakal Desa Troketon, Klaten.

“Memang kemampuan pendengarannya menurun karena faktor usia,” kata salah satu warga Dukuh Turunan, Desa Troketon, Mulyono, 68, yang siang itu bersama Solopos.com menemui Mbah Legi.

Mbah Legi kerap menghabiskan waktunya di makam tersebut dengan melakukan beragam kegiatan termasuk membersihkan rerumputan di kompleks makam. Ia pun disebut sebagai juru kunci makam. Ia pernah tinggal di kawasan kompleks makam itu pada 1980-an dengan mendirikan gubuk.

Namun, Mbah Legi pindah tempat tinggal setelah uang yang ia simpan dalam dua stoples hilang. Oleh warga, ia dibuatkan sebuah bangunan permanen berukuran 3 meter x 4 meter di tanah kas desa Dukuh Dipan, RT 003/RW 002, Desa Troketon, pada 1990-an.

Warga sudah biasa membaur dengan kakek-kakek sebatang kara itu. Tak jarang, ia membantu warga dengan mencarikan dedaunan ketika ada hajatan. Dari jasanya, Mbah Legi kerap mendapat imbalan berupa uang. Mbah Legi juga sering menyibukkan dirinya dengan mencari barang bekas.

“Dia tidak mengemis. Orangnya itu jujur dan tidak pernah mencuri. Ia juga tidak pernah jajan. Terkadang kalau menerima uang ia berikan ke anak-anak kecil,” kata Mulyono.

Namun, warga tak menyangka uang yang selama ini ia terima ditabung di dalam rumah. Bahkan, uang-uang yang disimpan memenuhi ruangan tempat tinggalnya.

Hal itu terungkap ketika warga bergotong royong membongkar rumah Mbah Legi karena tanahnya mau dipakai membangun balai pertemuan RW, gudang perkakas, serta tempat tinggal Mbah Legi, Minggu (22/7/2018). Nyaris seluruh ruangan penuh dengan uang logam dan kertas.

Tidak ada yang tahu asal-usul Mbah Legi. Ketua RT 003 Dukuh Dipan, Dwi Wiranto yang akrab disapa Doso, menjelaskan Mbah Legi sulit diajak komunikasi lantaran usia yang semakin menua. Warga berkomunikasi dengan Mbah Legi menggunakan gerak serta suara keras.

“Suara Mbah Legi itu memang tidak jelas. Tetapi warga sudah memahami maksud ketika ia menyampaikan sesuatu,” kata Doso.

Bagi warga, keberadaan Mbah Legi mewarnai kehidupan mereka. Warga pernah merasa kehilangan ketika kakek-kakek tersebut hilang pada 2017 hingga ditemukan di wilayah Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Klaten.

Selama ini, tak ada warga yang memasuki tempat tinggal Mbah Legi. Selain kondisi ruangannya pengap, tempat tinggal Mbah Legi juga terdapat ular.

“Dari ceritanya, Mbah Legi pernah tidur didekati ular. Tetapi tidak sampai digigit,” kata Suroto.