Kades Keloran Wonogiri Bingung Banyak Warganya Sakit Jiwa

Salah satu keluarga penderita gangguan jiwa di Dukuh Ngringin, Dusun Temulus, Desa Keloran, Selogiri, Wonogiri, Minggu (29/7 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
29 Juli 2018 19:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Sebanyak 21 warga Desa Keloran, Selogiri, Wonogiri, mengalami keterbelakangan mental dan menderita sakit jiwa. Tujuh orang di antaranya dari satu keluarga. Belum diketahui secara pasti penyebab mereka sakit jiwa.

Keterbelakangan mental atau reterdasi mental (RM) adalah keadaan yang ditandai fungsi kecerdasan umum di bawah rata-rata. Kondisi itu disertai berkurangnya kemampuan menyesuaikan diri yang timbul sebelum usia 18 tahun.

Kepala Desa (Kades) Keloran, Sumaryanto, saat ditemui wartawan di kantor desanya, Minggu (29/7/2018), mengatakan warga yang mengalami keterbelakangan mental berusia kurang dari 10 tahun hingga 30-an tahun. Ada pula warga berusia tua yang menderita sakit jiwa.

Mereka tersebar di enam dari tujuh dusun di Keloran. Sebaran 19 warga meliputi dua orang di Keloran, tujuh orang Dukuh Ngringin, Dusun Temulus, empat orang di Melikan, dua orang di Melati, tiga orang di Dukuh Bulakrejo, Dusun Kalipuru, dan satu orang di Kernan.

Sedangkan dua warga lainnya dia tidak hafal. Tujuh orang di Ngringin merupakan satu keluarga yang terdiri atas satu orang tua, empat anak, dan dua cucu. Satu dari dua orang di Keloran menderita sakit jiwa. Satu warga Bulakrejo juga menderita gangguan jiwa.

Menurut Kades warga yang mengalami keterbelakangan mental bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa. Komunikasi  bisa berjalan dua arah jika mereka memahami apa yang disampaikan lawan bicara.

Jika tak paham, biasanya mereka hanya diam. Mereka tetap bisa bekerja meski sebagai pekerja kasar, seperti pekerja bangunan dan buruh tani. Alhasil, mereka hidup dalam kemiskinan. Ekonomi mereka ditopang para tetangga sekitar.

Mereka memiliki kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK). Tokoh masyarakat sekitar memfasilitasi mereka dalam mengurus administrasi kependudukan (adminduk).

Mereka perlu dibantu karena tak mampu membaca dan menulis. Mereka juga terdaftar di program pemerintah, seperti Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sementara itu, penderita sakit jiwa dirawat orang tua atau kerabat karena tak bisa merawat diri sendiri.

“Kadang saya bersama perangkat desa lainnya sonjo [patungan atau mengumpulkan uang] untuk mereka. Warga sekitar sering memberi makanan kepada mereka. Kalau pas ada pekerjaan  bangunan, kami meminta salah satu dari mereka ikut membantu lalu kami beri upah. Kami sangat ingin membantu mereka, tapi kami juga bingung mau membantu pakai dana dari mana,” kata Kades.

Hingga sekarang belum ada yang mengetahui secara pasti penyebab warga mengalami keterbelakangan mental. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya. Dia menduga penyebabnya faktor genetik.