20 Finalis Putra Putri Solo 2018 Belajar Memasak Makanan Jawa

Finalis Putra Putri Solo (PPS) 2018 mendengarkan penjelasan Ketua Panitia Pelaksana PPS 2018, R.Ay. Febri H. Dipokusumo, saat mengikuti Pembekalan Finalis PP 2018 d Joglo Loji Gandrung Solo, Rabu (25/7 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
30 Juli 2018 08:30 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Sebanyak 20 finalis Putra Putri Solo  (PPS) 2018 belajar memasak makanan Jawa bersama Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Solo, Elisabeth Endang Prasetyaningsih Hadi Rudyatmo. Kegiatan memasak itu digelar di rumah dinas (Rumdin) Wali Kota Solo, Loji Gandrung, Penumping, Laweyan, Minggu (29/7/2018).

“Kegiatan hari ini [Minggu] bertema Nusantara Rise. Semua peserta diminta untuk memasak makanan Jawa dengan dipandu langsung Ketua PKK Solo,” ujar Ketua Panitia Pelaksana PPS 2018 RAy. Febri H. Dipokusumo saat ditemui Solopos.com di Loji Gandrung, Minggu.

Febri mengungkapkan dalam kegiatan memasak ini 20 finalis Putra Putri Solo terbagi dalam lima kelompok gabungan antara perempuan serta laki-laki. Jenis makanan yang dimasak di antaranya masakan oseng tempe, ikan bandeng, telur, dan sambel bawang.

“Selama ini peserta PPS hanya mengetahui makanan siap saji. Sekarang mereka perlu tahu proses memasak hingga menghidangkan di meja makan. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi destinasi baru wisata di Kota Solo,” kata dia.

Ia menjelaskan di kota tujuan wisata seperti Bali, Thailand, dan Vietnam mereka membuat destinasi wisata baru dengan melihat langsung proses memasak di dapur. Hal tersebut ternyata mampu menarik wisatawan.

“Kami ingin mengenalkan finalis PPS kalau Indonesia punya banyak beragam makanan khususnya Jawa. Folosofi dalam mememasak adalah menghidangkan makanan sehat bukan hanya mencari profit,” kat dia.

Panita PPS, lanjut dia, juga bekerja melibatkan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan disiplin. Setiap finalis PPS nantinya juga mendapatkan pertanyaan dari PPI seputar problem atau masalah seputar pariwisata di Indonesia. Ia menjelaskan lokasi pariwisata Danau Toba ada problem bencana tenggelamnya kapal sehingga menjadikan wisatawan enggan berkunjung. Demikian kasus lain terjadi teror bom di Surabaya menjadikan wisatawan takut.

“Finalis PPS harus bisa mencari solusi dengan memecahkan problem itu. Kami perlu meminta finalis PPS bisa memecahkan persoalan itu karena tantangan pariwisata kedepan sangat ketat,” kata dia.

Elisabeth Endang Prasetyaningsih, mengatakan memasak bagian terpenting yang harus diketahui finalis Putra Putri Solo. Selama ini mereka bisa berbicara bagus di depan umum, tetapi untuk urusan dapur terkadang kurang mendapatkan perhatian.

“Kami berharap dengan kegiatan ini finalis PPS punya bekal bagus dalam hal memasak makanan Jawa,” kata dia.