Tangis Haru Iringi Finalis Putra Putri Solo 2018 di Sesi Manner and Etiquette

Finalis Putra Putri Solo (PPS) 2018 mendengarkan penjelasan Ketua Panitia Pelaksana PPS 2018, R.Ay. Febri H. Dipokusumo, saat mengikuti Pembekalan Finalis PP 2018 d Joglo Loji Gandrung Solo, Rabu (25/7 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
31 Juli 2018 09:30 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Lantunan lagu Keluarga Cemara menjadi pengiring sesi Manner and Etiquette dalam pemilihan Putra-Putri Solo (PPS) 2018, Senin (30/7/2018) siang, di Hotel Ibis, Banjarsari, Solo. 

Di sela lagu itu, Ketua Panitia Pelaksana dan Pembina Paguyuban Putra-Putri Solo, Febri Dipokusumo mengajak 20 finalis PPS merenungkan kembali proses yang telah mereka lalui.
Suasana sendu makin terasa ketika suara lembut Febri berpadu dengan iringan lagu bertema serupa. Suara penyanyi kenamaan Melly Goeslaw dalam lagu Bunda, grup band Seventeen dengan lagu Ayah, dan Nikita yang menyanyi Di Doa Ibuku turut menambah haru suasana.

Tokopedia

Mikhal Malenting Brilyantin, 20, terlihat meneteskan air mata ketika Febri mengajak para peserta merenungi pengorbanan orang tua mereka. "Perjuangan ibu dan ayah kita yang mencarikan semua perlengkapan, menunggu kita pulang setiap malam," kata Febri kepada para peserta yang masih memejamkan mata. Mikhal mengaku ucapan Febri mengingatkan dia kepada sang ayah. "Papa tiap hari yang mengantar dan menjemput setiap selesai pelatihan," ungkap mahasiswa Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) itu.

Tahun ini untuk kali pertama Mikhal mengikuti pemilihan PPS. Kedua orang tuanya sangat mendukung. "Ibu saja tiap aku pulang kalau sudah tidur pasti menyempatkan diri bangun untuk ngelihat aku," kata dia. Dukungan orang tua diakui Mikhal menjadi faktor penting yang membuatnya bisa mencapai tahap ini.

Mikhal mengaku motivasinya mengikuti PPS karena ingin menjadi role model bagi teman-teman sebayanya. "Apalagi teman-teman seusiaku sudah banyak yang tidak meminati kebudayaan," katanya. Sebelum mengikuti pemilihan PPS Mikhal aktif dalam Sanggar Tari Semarak Candra Kirana binaan Irawati Kusumorasri. Sanggar itu diakui Mikhal menjadi wadahnya mengembangkan minat di bidang kebudayaan.

Sesi Manner and Etiquette diakuinya menimbulkan kesan tersendiri. "Plong banget karena kalau mulai lelah emang selalu nangis, jelas emang capai tapi semuanya harus dilakukan dengan ikhlas," kata dia.

Peserta lain, Laurensia Liona, 24, malah memiliki kesan lain dengan sesi yang mengharu biru ini. "Jangan baperan, semua yang terjadi itu tergantung bagaimana kita meresponsnya," kata Liona.

Gadis Tionghoa itu mengaku cukup santai dalam menjalani proses pemilihan PPS. Sebabnya, dia tak mematok target apapun. Liona mengatakan dirinya lebih ingin mencari pengalaman ketimbang mengincar selempang juara. "Yang jelas ingin tahu rasanya," kata dia.

Gadis yang kini menjalani profesi sebagai karyawan swasta di daerah Pasar Legi itu bercerita bahwa sebelumnya dia pernah bekerja sebagai tukang cuci piring. Pekerjaan itu diakuinya kini mengasah rasa empati terhadap orang lain.

"Kalau empati sudah ada kan bisa hidup harmoni, bermartabat, dan lebih mengerti orang," kata dia. Hal itu menjadi pelajaran yang lebih penting daripada perenungan belaka.