Penutupan Jl. M.T. Haryono Solo Pukul Pengusaha

Pengendara sepeda motor hendak masuk ke pintu darurat yang dibuat dengan membongkar salah satu bagian pagar SMPN 1 Solo, Senin (30/7 - 2018). (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
31 Juli 2018 16:40 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Penutupan sebagian Jl. M.T. Haryono, Solo, menyusul pembangunan terowongan flyover (jalan layang) Manahan per Senin (30/7/2018) menjadi pukulan berat bagi kalangan usaha di sekitarnya. Omzet mereka terjun bebas.

Manager on Duty Sophie Souffle Solo, Heni Pujiastuti, menuding Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dan PT Yasa Patria Perkasa selaku kontraktor pembangunan flyover Manahan tak memikirkan nasib para pengusaha di sekitar Manahan. Pemkot dan kontraktor proyek benar-benar tidak menyediakan akses bagi pelanggan atau masyarakat yang ingin ke outlet Sophie Souflle di Jl. M.T. Haryono dekat perlintasan sebidang Manahan.

Akses yang disediakan Pemkot ke Sophie Souffle lewat halaman SMPN 1 Solo tak bisa dimanfaatkan dengan bebas. Gerbang SMPN 1 Solo yang menjadi pintu menuju Sophie Souffle tergembok pada Selasa (31/7/2018) siang.

Para pengendara otomatis mesti meminta tolong petugas satpam SMPN 1 Solo untuk membuka pintu gerbang jika ingin ke Sophie Souflle. Heni menganggap hal itu kurang praktis bagi pelanggan, termasuk penjaga toko.

“Kami sangat merasakan dampak dari penutupan jalan ini [sebagian Jl. M.T. Haryono]. Saya hari ini sengaja berkunjung ke sini untuk melihat akses jalannya. Ya saya cukup kaget, kok pelaksana proyek  dan pemerintah enggak memikirkan pengusaha setempat?” kata Heni saat diawawancarai Solopos.com, Selasa siang.

Heni tak mau tinggal diam menyaksikan omzet Sophie Souffle outlet Manahan terjun bebas akibat terdampak proyek pembangunan terowongan flyover di utara perlintasan sebidang Manahan. Dia meminta Pemkot maupun kontraktor proyek menyediakan akses bagi pelanggan menuju toko roti Sophie Souffle.

Heni juga meminta Pemkot menambah rambu pemberitahuan untuk menuju toko Sophie Souflle yang tetap beroperasi selama pembangunan flyover. Rambu tersebut diharapkan dipasang di simpang tiga patung kuda Manahan.

“Kami jelas menderita penurunan omzet. Saya sudah bertanya kepada karyawan di Manahan. Biasanya kalau siang begini mereka sudah dapat customer dengan omzet yang cukup bagus. Tapi ini parah sekali. Kami baru dapat satu customer. Oleh sebab itu, kami minta pengertian dari pemerintah dan kontraktor untuk memikirkan akses jalan sambil kami mengintensifkan promosi ke luar lewat madia sosial,” jelas Heni.

Terpisah, pengelola Toko Bangunan (TB) Laksana di Jl. M.T. Haryono, Sri Wahyuni, juga mengaku merugi besar akibat terdampak proyek pembangunan flyover Manahan. Kurang tersedianya akses menjadi penyebab para pelanggan tak datang lagi ke TB di utara perlintasan sebidang Manahan tersebut.

Sri meminta pemerintah memperhatikan nasib para pengusaha yang telah lama menempati lahan di sekitar lokasi proyek. Dia berharap proses pengerjaan proyek pembangunan flyover Manahan bisa segera rampung.

Penjaga SMPN 1 Solo, Sukidi Wijayanto, 66, terpaksa menutup gerbang keluar SMPN 1 Solo yang menjadi akses masyarakat menuju lokasi pengusaha di utara perlintasan sebidang Manahan karena alasan keamanan. Dia khawatir kondisi SMPN 1 Solo jadi tak aman jika masyarakat dengan bebas keluar masuk halaman sekolah.

Menurut Sentot, sapaan akrab Sukidi, para pengendara semestinya tetap dilewatkan ke jalur lambat Jl. M.T. Haryono atau jangan masuk ke halaman SMPN 1 Solo saat diberlakukan rekayasa lalu lintas pembangunan terowongan flyover Manahan.