Asale Desa Ngreco Sukoharjo dan Kisah Arca dari Emas

Kantor Desa Ngreco, Weru, Sukoharjo. (Solopos/Trianto Hery Suryono)
31 Juli 2018 14:15 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Nama Desa Ngreco di Kecamatan Weru, Sukoharjo, mengingatkan pada benda dari zaman purbakala, reco atau arca. Tradisi lisan di kalangan masyarakat setempat memang menyebut asal-usul nama desa itu ada kaitannya dengan arca.

Desa Ngreco merupakan satu dari 13 desa di Kecamatan Weru. Desa ini menjadi ibu kota Kecamatan Weru sehingga cukup ramai. Sebagai pusat pemerintahan, di situ ada Kantor Kecamatan Weru, Mapolsek Weru, maupun Markas Koramil 05/Weru, dan Pasar Tawang lama.

Tokopedia

Letak Kantor Desa Weru berada di pinggir Jalan Raya Sukoharjo-Watukelir, Weru, atau selatan Mapolsek maupun Kantor Kecamatan Weru. Warga Ngreco tidak ada yang mengetahui persis asal mula nama desa mereka.

Namun, menurut cerita yang berkembang, Desa Ngreco sudah ada sejak sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Kepala Desa Ngreco, Sunardi, saat ditemui Solopos.com, di kantornya, Sabtu (28/7/2018), bercerita nama Ngreco berasal  dari kata arca atau reco.

“Berkembang pula cerita bahwa kata Ngreco merupakan gothak gathuk entuk [menghubungkan kata] arca atau istilah Bahasa Jawa reco sehingga menjadi Ngreco,” ujarnya.

Dia bercerita pada zaman penjajahan dahulu di desanya banyak ditemukan arca berbagai jenis. Arca-arca itu sebagian telah diambil dan disimpan di Balai Purbakala.

“Ada cerita soal arca berbahan emas yang belum ditemukan sampai sekarang. Namun, sisa-sisa keberadaan candi atau kerajaan Majapahit masih tampak, yakni arca, batu bata, dan cerobong tempat pembuatan pusaka.”

Ada cerita lainnya tentang asal mula nama Ngreco. Konon ceritanya  ada seorang kiai dari Majapahit yang lari di zaman peperangan Majapahit dengan Demak. Kiai itu bernama Banyakprodo. "Pelarian Kyai Banyakprodo sampai ke sini [Ngreco],” jelasnya.

Sesampainya di wilayah Weru, Sukoharjo, Kyai Banyakprodo bertapa bersama tujuh pengikutnya. Di saat bertapa itu ada seseorang mencoba menyapa tetapi sang kiai diam.

“Penyapa tersebut menduga orang yang disapa adalah reco atau arca karena diam saja. Padahal wujudnya manusia. Dari peristiwa itu akhirnya beredar kabar ada reco di wilayah pertapaan. Lama-kelamaan warga akrab dengan nama Ngreco.”

Sunardi menjelaskan pemerintahan Ngreco sudah ada sejak 1955 dan setahun kemudian dilangsungkan pemilihan kepala desa. “Kantor desa zaman itu di rumah pejabat. Sebelum kemerdekaan, kepala desa dijabat Demang Pawiro Diharjo sehingga kantor desa berada di rumah Ki Demang Pawiro. Saat peristiwa G30S/PKI, pemerintahan desa sempat terhenti kemudian disepakati jabatan kepala desa diserahkan kepada Tukiran dengan kantor desa di rumah Tukiran,” jelasnya.

Kemudian jabatan Kades dijabat oleh Suharto 1980-1990, Rohmadi menjabat dua periode sejak 1990 hingga 2006 dan diganti oleh Sunardi juga dua periode 2006-2018.

Kepala Dusun Klampok, Joko Wiranto, menambahkan kantor desa sekarang menempati lahan seluas 2.600 meter persegi. “Kantor desa ini baru dibangun pada 1980-an, sebelumnya kantor berada di belakang kantor sekarang. Jumlah perangkat sejumlah 12 orang terdiri atas lima kadus, lima kepala urusan dan satu sekretaris desa dan satu kepala desa."

Dia juga bercerita nama Ngreco tidak terlepas dari cerita sejarah keberadan arca atau reco yang cukup banyak di Ngreco. Desa Ngreco terdiri atas 15 dukuh tetapi diampu lima Kepala Dukuh dengan 43 rukun tetangga (RT).

Padukuhan di Ngreco adalah Dukuh Ngreco, Dukuh Klampok, Dukuh Candi, Dukuh Gabeng, Dukuh Pulerejo, Dukuh Gemawang, Dukuh Kalibondang. Juga Dukuh Blumbang, Dukuh Lengkong, Dukuh Ngadisari, Dukuh Putuk, Dukuh Ngrawan, Dukuh Sidowayah, Dukuh Tawangrejo, dan Dukuh Sambirejo.