Sekolah Khusus Budaya Jawa Dibuka di Boyolali

Siswa Pawiyatan Budi Rahayu School of Javanese Culture di Desa Senden, Selo, Boyolali, belajar mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jawa, Selasa (31/7 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
31 Juli 2018 18:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Pawiyatan Budi Rahayu School of Javanese Culture yang digagas Universitas Indonesia (UI) sebagai sekolah khusus budaya Jawa dibuka mulai Selasa (31/7/2018) ini di Senden, Kecamatan Selo, Boyolali. Kelas perdana diikuti 39 siswa yang terbagi dalam dua kelas.

Tak hanya siswa dari dalam negeri, kelas perdana itu juga diikuti 12 siswa dari mancanegara, mulai negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina, hingga negara yang letaknya cukup jauh dari Indonesia seperti Vietnam, India, Bangladesh, Afghanistan, Pakistan, Kazakhstan, dan Tajikistan.

Sekolah nonformal ini menggunakan rumah-rumah warga untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) mereka. Dengan peserta/siswa minimal 10 orang, para siswa akan mendapatkan pelatihan singkat tentang bahasa Jawa dan kesenian setempat seperti gamelan, jathilan, dan kethoprak.

Saat ini sekolah tersebut masih dalam pendampingan UI, namun ke depan sekolah ini bisa dijalankan masyarakat setempat. Penggagas kegiatan, Widyasmaramurti, saat ditemui wartawan di sela-sela KBM, Selasa, mengatakan Pawiyatan Budi Rahayu School of Javanese Culture merupakan pengabdian masyarakat yang didanai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI.

“Ini adalah kelanjutan program tahun lalu dari DRPM UI. Saat itu kami membuka laboratorium bahasa dan budaya Jawa di sini untuk mencari materi bahan ajar yang khas dari daerah Senden,” ujar dia.

Senden dipilih sebagai lokasi sekolah karena dia menilai masyarakat ada keinginan maju. “Kami melihat masyarakatnya benar-benar ingin maju dan mengajukan permohonan untuk didampingi UI dalam meningkatkan kemandirian masyarakat,” ujar Widyasmaramurti atau Mara yang juga dosen FIPB UI tersebut.

Mara sangat berharap keberadaan sekolah ini akan memberi manfaat dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Wujudnya antara lain dengan tumbuhnya homestay, warung-warung makan, dan sebagainya.

“Agar masyarakat siap, kami juga sudah memberikan pelatihan homestay kepada warga dengan memaksimalkan apa yang mereka punya agar bisa memberikan hasil. Sedangkan para tamu akan menjadi bagian dari masyarakat setempat,” imbuhnya.

Sementara itu, para siswa sekolah budaya ini akan berada di Senden selama sepekan hingga Sabtu (4/8/2018). Kepulangan mereka ke daerah asal sekaligus sebagai “duta wisata” yang akan membawa informasi mengenai Senden.

Terpisah, warga menyambut antusias kegiatan tersebut dan sangat berharap akan memajukan daerah mereka. “Tentu kami sangat mendukung kegiatan ini. Tetapi kemampuan kami sangat terbatas sehingga butuh dukungan dari pihak lain,” ujar Ketua RT 003/RW 003 Senden, Jumadi.

Ketua RT 004/RW 003 Senden, Marjiyanto, juga sangat mengharapkan desanya menjadi desa wisata yang maju. “Kami sangat berharap Senden menjadi desa wisata sehingga masyarakatnya lebih maju dalam semua aspek,” kata dia.