Pria Tajikistan Tempuh 3 Hari Perjalanan Demi Belajar di Boyolali

Mirza Amir (kiri) yang berasal dari Tajikistan belajar budaya Jawa di Boyolali. (Istimewa/Mahasiswa UI/Lian)
31 Juli 2018 21:10 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Belajar tidak mengenal tempat. Kalimat itu tepat untuk mengambarkan apa yang dilakukan pria asal Tajikistan bernama Mirza Amir, 32, ini.

Demi belajar budaya Jawa, laki-laki yang sudah berkeluarga dan sehari-hari berwiraswasta sebagai pembuat tas kertas di negaranya itu, rela menempuh perjalanan jauh melintasi banyak negara.

Tak tanggung-tanggung, Mirza menghabiskan tiga hari tiga malam di perjalanan demi sampai di Boyolali. Mirza merupakan salah satu peserta/siswa kelas perdana Pawiyatan Budi Rahayu School of Javanese Culture yang digagas Universitas Indonesia (UI) sebagai sekolah khusus budaya Jawa.

Sekolah itu baru dibuka Selasa (31/7/2018) di Senden, Kecamatan Selo, Boyolali. Kelas perdana diikuti 39 peserta, 12 peserta di antaranya berasal dari mancanegara termasuk Mirza.

“Saya terbang dari Tajikistan ke Usbekistan lalu ke Khazakstan dan seharusnya lanjut ke Malaysia. Tapi sampai Khazakstan saya terlambat 11 jam sehingga tiket pesawat saya hangus dan saya harus beli tiket baru ke Malaysia lalu baru ke Jakarta. Total saya tiga hari perjalanan sampai ke sini,” ujar Mirza yang akrab disapa Mack ini di sela-sela waktu istirahat sekolah, Selasa.

Semuanya ini dia anggap sebagai bagian dari perjalanan yang menyenangkan agar bisa belajar budaya Jawa yang berbeda dibandingkan budaya di negara asalnya. “Saya memang ingin sekali mengetahui budaya yang berbeda dibandingkan dengan di negara saya atau negara di sekitar saya,” imbuhnya.

Saat ditanya kesan mengenai bahasa Jawa yang sedang dipelajarinya pada hari pertama sekolah, Mack mengaku kesulitan melafalkan dan mengingatnya. “Susah banget ngomong Jawa buat saya. Kata-katanya sangat panjang. Lidah saya susah beradaptasi, lebih mudah belajar bahasa China,” ujarnya berkelakar.

Meski demikian, Mack mengaku akan tetap berusaha, termasuk berusaha mempelajari seni dan budaya Jawa. Sementara itu, salah satu peserta lain asal Filipina, Nathan, 22, mengatakan sebenarnya budaya Indonesia mirip dengan budaya negaranya.

Karenanya ia tidak terlalu sulit mengenal budaya Jawa. Namun lebih dari itu, tujuan lain Nathan belajar budaya Jawa adalah mencari teman baru dan rumah kedua.

“Budaya Filipina tidak beda jauh berbeda dengan Indonesia. Bahkan kami sulit membedakan apakah kita orang Indonesia atau Filipna karena kita punya banyak sekali kesamaan. Tapi saya ingin mencari teman baru dan rumah kedua bagi saya dan di sini ini sangat bagus,” ujar mahasiswa ini.