Desa Kemudo Klaten Kembangkan Joglo Tani

Lahan di belakang kantor Desa Kemudo, Prambanan, Klaten dikembangkan menjadi kawasan pertanian terpadu. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
31 Juli 2018 15:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, Klaten berjarak sekitar 10 km dari pusat pemerintahan Klaten. Desa itu memiliki sekitar 1.600 keluarga yang tinggal di 34 RT, 13 RW, serta 14 dukuh.

Sebagian wilayah Kemudo masuk zona industri. Sejumlah industri besar berdiri di desa setempat. Namun, hamparan sawah masih luas di salah desa yang terkenal dengan produksi tanaman cabai tersebut.

Tokopedia

Sejak 2016 silam, desa setempat mulai membentuk Badan Usaha Milik (BUM) desa. Salah satu potensi yang digarap yakni mengolah limbah industri seperti karton, kertas, plastik, serta palet kayu. Pada 2018, desa setempat mulai mengembangkan potensi lain. Memanfaatkan program corporate social responsibility (CSR) salah satu perusahaan setempat, Kemudo mengembangkan pertanian terpadu melalui Joglo Tani. Program pertanian yang digarap kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang berada di bawah BUM Desa Kemudo Makmur.

Joglo Tani didirikan di lahan seluas 1.000 meter persegi yang berada di kompleks kantor desa. Sebelumnya, lahan termasuk lahan kas desa tak produktif. Di lahan itu, mulai dikembangkan pertanian sayuran dan buah-buahan berbasis organik. Pengembangan lain yakni peternakan mulai dari sapi, kambing, ayam, bebek, lele, serta kelinci. Kepala Desa Kemudo, Hermawan Kristanto, mengatakan Joglo Tani menjadi konsep pengelolaan pertanian terpadu. “Di Joglo Tani juga ada green house anggrek serta pengelolaan pupuk organik,” kata Hermawan saat ditemui Solopos.com di kantor Desa Kemudo, Jumat (27/7/2018).

Joglo Tani dibangun dengan seluruh biasa berasal dari program CSR. Sementara, konsep pengembangan merupakan kolaborasi antara perusahaan serta pemerintah desa. Pengembangan Joglo Tani dilakukan sejak awal Juli dan ditargetkan diluncurkan pada akhir Agustus mendatang. Pengelolaan tanaman dan peternakan itu ditargetkan menjadi percontohan dan wisata edukasi. Para pengunjung bakal dilatih cara mengelola sayuran dan buah-buahan berbasis organik. Selain di tingkat desa, pengembangan pertanian terpadu itu juga bakal dikembangkan di tingkat RW.

“Pasar kami targetkan dari anak-anak hingga orang dewasa yang memasuki masa pensiun. Harapan kami ketika ada kunjungan ke perusahaan bisa dilanjutkan ke Joglo Tani,” jelas dia.

Hermawan mengatakan Joglo Tani dikelola sekitar 30 warga yang tergabung dalam Pokdarwis. Saat ini, mereka masih mengikuti pelatihan mulai dari cara menyadarkan orang untuk bertani organik, mengetahui kondisi kesuburan tanah, serta pembuatan bibit. Pengembangan Joglo Tani dimaksudkan sebagai media regenerasi petani. Pokdarwis yang bakal mengelola joglo tersebut mayoritas berusia muda. “Dari pengembangan ini harapan kami warga juga mendapatkan penghasilan tambahan,” katanya.