Begini Keseruan Ular Tangga Raksasa di Klaten

Siswa kelas IV SDN 2 Trunuh, Klaten, mengikuti permainan ular tangga raksasa, Selasa (31 - 7). (Cahyadi Kurniawan)
31 Juli 2018 19:00 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Bocah-bocah berseragam olahraga duduk mengelilingi bahan MMT ukuran 3 m x 3 m. MMT itu membentuk motif permainan ular tangga yang lazim dimainkan kanak-kanak.

Mereka mendengarkan instruksi dari pemandu acara yang juga pegiat Guyub Bocah, sebuah lembaga nonpemerintah yang fokus pada pemenuhan hak-hak anak. Bocah-bocah itu dibagi ke dalam empat kelompok yang berisi sekitar 13 orang. Salah satu dari mereka diminta mengajukan diri menjadi pelempar dadu. Tak hanya itu, setiap kelompok juga harus mengajukan satu wakil yang berperan sebagai pion dalam permainan ular tangga.

Tokopedia

Pemandu menerangkan aturan main kepada bocah-bocah SDN 2 Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Klaten, itu. Aturan itu salah satunya adalah sebelum melempar dadu, setiap kelompok diberi pertanyaan dulu dari pemandu. Jika benar, kelompok mendapatkan skor lima. Jika salah, tak mendapatkan poin. “Apa kalian siap?” tanya pemandu. “Siap!” sahut bocah-bocah, girang di halaman belakang SDN 2 Trunuh, Selasa (31/7/2018).

Permainan dimulai hingga beberapa pertanyaan. Setiap pertanyaan selalu dijawab ramai-ramai kendati tidak ditujukan kepada kelompoknya. Sebuah dadu lalu dilempar ke atas, menggelundung dan muncul sebuah bulatan dengan jumlah dua. Seorang bocah yang menjadi pion berjalan dua langkah. Posisinya kini berada di ujung titik-titik hitam yang berfungsi seperti ular dalam permainan ular tangga. Bocah itu harus turun ke kotak di ujung titik-titik. “Mbak, itu harus turun mbak. Turun,” teriak bocah-bocah. Pion pun berjalan ke ujung titik. Tertawalah semuanya melihat kawannya tak jadi naik ke kotak selanjutnya.

Hingga tiba pada satu pertanyaan, “Siapa presiden pertama Indonesia?” tanya pemandu kepada kelompok 3. “Jokowi! Jokowi!” balas seluruh anak-anak spontan. “Siapa presiden pertama Indonesia? Presiden pertama,” ulang pemandu. “Jokowii, Mbak. Jokowi!!” bocah-bocah itu lebih lantang.

Pemandu mengernyitkan dahinya. Semua mata tertuju padanya. Anak-anak diam kendati samar-samar teredengar obrolan atau tawa candaan bocah di sudut lain. “Soekarno,” ujar lirih seorang bocah perempuan. “Soekarno, Soekarno!!” teriak bocah-bocah mengulang jawaban temannya. “Betul,” lalu dadu pun dilempar.

Permainan berlanjut. Sebuah pertanyaan kembali digulirkan kepada kelompok berikutnya. “Di mana ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta?” tanya pemandu. Anak-anak terdiam. “Wah kok sulit banget to Mbak pertanyaannya,” keluh seorang bocah, setengah berteriak. “Ganti pertanyaan Mbak,” protes bocah lain. Pertanyaan pun diganti.

“Adikmu sedang menangis di kamar. Padahal, ibu sedang memasak di dapur. Apa yang kamu lakukan jka kamu di rumah?” pertanyaan dilontarkan. “Menenangkannya!” balas seorang anak dari sudut lain. “Menghiburnya!” jawab sebagian anak serentak. “Wuah kok pertanyaannya gampang sekali,” celetuk seorang bocah. Kawan-kawannya pun tertawa. Mereka tertawa bersama. Mereka lanjutkan permainan ular tangga itu hingga usai disertai tawa.

Permainan itu menjadi kali pertama bagi Aldo Setiadi, 9, siswa kelas IV SDN 2 Trunuh. Ia berpendapat, bermain ular tangga raksasa sangat menyenangkan. Ia juga mendapat pengetahuan baru dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pemandu. “Sangat menyenangkan. Kalau bisa, sering-sering digelar permainan seperti ini di sekolah,” harap dia.
Permainan ular tangga itu diadaptasi dari permainan ular tangga yang lazim dimainkan anak-anak. Penyelenggara mengubah sedikit permainan agar permainan mengandung pesan edukasi ketimbang sekadar bersenang-senang. “Mereka belajar banyak hal dari sana mulai pengetahuan, etika, moral, dan lainnya. Yang utamanya adalah anak-anak karena mereka bermain sambil belajar,” ujar pegiat Guyub Bocah, Maria Suciningsih,” saat ditemui Solopos.com di sela-sela acara di SDN 2 Trunuh, Selasa.

Maria menerangkan permainan anak digelar berbarengan dengan kampanye pemenuhan hak-hak anak kepada guru dan orang tua di sekolah setempat. Salah satu poinnya adalah perlu ada inovasi untuk belajar anak selain di dalam kelas. Sebab, prestasi akademik bukanlah satu-satunya potensi anak. Guru dan sekolah wajib menggali dan mengembangkan potensi lain yang pada anak-anak. “Jadi jangan lagi anak dianggap bodoh hanya karena dia tidak meraih peringkat di kelas. Mungkin potensi dia tidak di sana. Itu yang perlu digali. Salah satu caranya adalah belajar yang dibikin jadi permainan atau permainan yang berisi pembelajaran. Kalau permainan itu enggak ada isinya ya sama saja,” ujar dia.