Sekda Solo Budi Yulistianto Menangis Saat Pamit Pensiun

Sekda Solo, Budi Yulistianto (ketiga dari kanan), berfoto bersama pegawai BPPKAD Kota Solo di Balai Kota Solo, Selasa (31/7 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
01 Agustus 2018 04:30 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sekretaris Daerah (Sekda) Solo Budi Yulistianto tak kuasa menahan air mata, Selasa (31/7/2018). Sesekali Budi mengusap matanya dengan tisu.

Wajahnya tampak sayu. Hari itu menjadi hari terberat bagi pria kelahiran Jakarta, 19 Juli 1958, ini karena merupakan hari terakhir sebelum memasuki masa purna tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Terhitung mulai tanggal (TMT) 1 Agustus, Budi pensiun. Dalam rangka pengantar purna tugas Sekda, Pemkot Solo menggelar apel bersama yang diikuti ribuan ASN di halaman Balai Kota.

Apel tersebut dipimpin Budi Yulistianto sekaligus pamitan. Seusai apel para ASN membentuk antrean mengular di halaman Balai Kota. Mereka antre bersalaman memberi salam perpisahan bagi mantan Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD).

Salam perpisahan diawali Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo dan Wakil Wali Kota (Wawali) Achmad Purnomo dilanjutkan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan seluruh ASN. Saat bersalaman, Budi beberapa kali tampak tak kuasa menitikkan air mata.

Begitu pula sejumlah pimpinan OPD hingga ASN tampak menitikan air mata. Suasana haru semakin terasa saat seluruh pimpinan OPD menyanyikan lagu Kemesraan. Seluruh ASN hanyut dalam nyanyian tersebut dan sebagian meneteskan air mata.

Sosok Budi Yulistianto dinilai sempurna sebagai seorang ASN. Berlatar belakang arsitek, namun justru lebih banyak berkutat dengan keuangan daerah saat menjabat Kepala DPPKAD.

Selama duduk di kursi krusial itu, Budi mampu membawa Pemkot memperoleh penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) hingga delapan kali WTP berturut-turut dari Badan Pemeriksa Keuangan.

“Pak Budi orang bijaksana, penyabar, berpikir taktis, dan mampu membuat suasana bekerja kondusif sehingga memicu kerja OPD untuk bekerja progresif,” ungkap Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Solo Suwarta.

Hal senada disampaikan mantan ajudan Sekda, Irjanto Prayudha, yang mengaku terkesan dengan sikap yang dimiliki Budi Yulistianto. “Bapak itu santai orangnya, tapi kerjaan beres. Tidak pernah marah-marah, kalau menegur dengan sindiran bercanda,” katanya.

Di mata Wali Kota, Budi Yulistianto seperti sosok tokoh wayang Kresna. Halus, lembut, namun pekerja keras. "Beliau juga sosok yang waskita, mampu melihat sebelum terjadi. Kami sangat kehilangan seperti Pak Budi Yulistianto,” katanya.

Sebagai ungkapan terima kasih, Rudy memberikan kenang-kenangan berupa wayang Kresna. Budi Yulistianto menilai memasuki masa pensiun adalah hal biasa yang harus dijalani sebagai seorang ASN.

Budi pun bersyukur dengan segala kejutan yang diterimanya di hari terakhirnya mengemban tugas sebagai Sekda Solo. Karier Budi Yulistianto diawali dengan menjadi tenaga honorer di Provinsi Jawa Tengah selama dua tahun sejak 1987.

Kemudian Budi diangkat menjadi PNS (kini ASN) pada 1989. Saat itu Budi masuk golongan IIIa. Lalu mulai 2000, Budi pindah tugas di Pemerintah Kota (Pemkot) Solo hingga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), serta Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD).

Awal 2016, Budi Yulistianto diangkat menjadi Penjabat (Pj) Wali Kota menggantikan Pj. Wali Kota Budi Suharto yang meninggal dunia karena sakit. Selanjutnya Budi dilantik dan ditetapkan menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Solo per 23 September 2016.