Telur Ayam Ras Penyumbang Tertinggi Inflasi di Solo

Pedagang menata dagangan telur ayam di Pasar Legi Solo, Selasa (17/7/2018). Telur menjadi penyumbang tertinggi inflasi Solo.(Solopos - M. Ferri Setiawan)
01 Agustus 2018 18:48 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Telur ayam ras jadi komoditas utama penyumbang tertinggi  inflasi di Kota Solo pada Juli 2018. Adanya kenaikan harga telur ayam ras ini menjadi salah satu pemicu inflasi pada Juli 2018 sebesar 0,09%.

Badan Pusat Statistik (BPS) Solo mencatat telur ayam ras ini mengalami kenaikan harga sebesar 13,29% atau memberikan sumbangan terhadap inflasi sebesar 0,0980%.

Kepala BPS Solo, R Bagus Rahmat Susanto, mengatakan kenaikan harga telur ayam ras ini disebabkan beberapa faktor. Antara lain, banyaknya ayam yang terserang penyakit sehingga produktivitas telur pun ikut menurun.

“Kenaikan harga pada telur ayam ras ini menjadi penyumbang inflasi paling besar pada Juli. Selain itu, komoditas lain yang mempengaruhi inflasi adalah mie dengan kenaikan harga 4,98% dan memberikan kontribusi sebesar 0,0949%, diikuti bensin [bahan bakar minyak] dengan kenaikan harga 1,87% serta memberikan andil 0,0680%,” tuturnya, kepada wartawan, Rabu (1/8/2018).

Menurutnya, komoditas lain yang juga mengalami kenaikan harga cukup tinggi, yakni cabai rawit dengan kenaikan 9,52% dengan andil inflasi 0,0296%. Komoditas ini disusul teh manis yang naik 3,85% dengan andil inflasi 0,0253%, blouse (pakaian) mengalami kenaikan 11,92% dengan kontribusi 0,0208%, donat naik 10,71% serta andil 0,0206%, dan tarif pulsa ponsel naik 1,02% dengan andil inflasi 0,0201%.

BPS Solo mencatat inflasi Kota Solo sebesar 0,09% ini lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi Juni tahun yang sama sebesar 0,85%. Inflasi ini disebabkan adanya kenaikan harga yang ditunjukkan dengan naiknya angka indeks harga konsumen (IHK).

Selain itu, dilihat dari tujuh kelompok pengeluaran konsumsi yang dihitung IHK, lima item mengalami kenaikan, yakni kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau naik 1,08%; kelompok perumahan air, listrik, gas, dan bahan bakar naik 0,11%; kelompok sandang naik 0,23%; kelompok kesehatan naik 0,22%; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga naik 0,22%.

Perkembangan IHK di Solo ini menempati peringkat ke-27 dari 82 kota di Indonesia. Kelompok yang menyumbang inflasi terbesar, yakni kelompok inti dengan indeks 119,87 dan mengalami inflasi sebesar 0,54% dengan andil sebesar 0,35%. Sedangkan kelompok lain, volatile food dan administered price justru mengalami deflasi, masing-masing 0,41% dan 1,05%.

“Di sisi lain, komoditas utama yang mengalami deflasi paling besar adalah tarif angkutan udara yang turun 14,54% dengan andil deflasi 0,1495% dan tarif bus antarkota yang turun 15,07% dengan andil deflasi 0,1139%,” imbuhnya.