Napi, Sipir, dan Polisi Sragen Bahu Membahu Ngecat Masjid

Napi dan sipir bekerja bersama mengecat Masjid Nurul Huda di Dukuh Gerdu RT 003, Desa Pilangsari, Ngrampal, Sragen, Rabu (1/8 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
01 Agustus 2018 19:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Sepuluh orang sibuk membersihkan serambi dan mengecat dinding dalam Masjid Nurul Huda di Dukuh Gerdu RT 003, Desa Pilangsari, Ngrampal, Sragen, Rabu (1/8/2018).

Mereka mengenakan kaus kombinasi biru tua dan biru muda. Di bagian punggung mereka terhadap tulisan “Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas Sragen.”

Mereka bergotong-royong dengan para sipir Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIA Sragen, personel Polsek Ngrampal, dan para amil dari Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Sragen. Meski berstatus narapidana, mereka bisa berbaur dengan lainnya bahu membahu mengecat masjid.

Mereka sibuk menggerakan rol dan kuas yang sudah dicelupkan dalam cat berwarna hijau pada dinding masjid itu. Mereka bagian dari 520 penghuni LP. Beberapa sipir dan polisi ikut membantu mengecat jendela dan pintu dengan cat minyak warga hijau tua.

“Ora dhuwur-dhuwur, Mbah. Mengko kenek plafon! [Jangan tinggi-tinggi, Mbah. Nanti terkena plafon!]” ujar Natal Sugiyanto, 41, warga Desa Sambi, Sambirejo, Sragen, kepada Supardi, 59, warga Tanon, yang baru kali pertama mengecat pakai rol.

Natal dan Supardi merupakan napi kasus perjudian. Natal sudah tinggal di LP selama enam bulan dari vonis yang diterimakan selama 10 bulan. Sedangkan Supardi baru menjalani lima bulan di LP dari total hukuman delapan bulan.

Supardi berusaha tidak menggoreskan rolnya tinggi-tinggi. Ia justru mengulangi mengecat tembok itu meskipun masih basah. Hal itu membikin temannya kembali mengingatkan Supardi supaya ditunggu kering dulu baru dirol lagi temboknya.

“Ya, maklum. Baru kali pertama mengecat. Saya bisa keluar dari LP untuk sementara walaupun hanya mengecat masjid sudah senang. Ya, biar bisa padang hawa dan melihat dunia luar,” kata kakek bercucu dua itu saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu siang.

Sulistyono, 34, warga Gebang, Sukodono, Sragen, yang menjalani hukuman 4,5 bulan dari vonis tujuh bulan di LP karena kasus perjudian juga senang bisa menikmati dunia luar LP. Di dalam LP itu, bagi Sulis, jenuh karena rutinitas sama setiap hari.

“Kalau olahraga kadang hanya senam. Selebihnya aktivitas di masjid LP,” ujar napi penghuni Blok B LP Kelas IIA Sragen itu.

Kasi Pembinaan Anak Didik dan Narapidana LP Kelas IIA Sragen, Agung Hascahyo, menjelaskan kegiatan mengecat masjid ini merupakan wujud Bakti Merah Putih Napi yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia. Bakti Merah Putih Napi itu merupakan bakti sosial warga binaan LP kepada masyarakat di luar LP.

“Kami melibatkan 10 napi. Sebelumnya kami mengukuhkan 20 napi Merah Putih pada 27 April 2018 lalu. Tujuannya membentuk kepribadian napi dan memberi bekal kepada para napi. Seleksi Napi Merah Putih itu syarat minimalnya harus hafal Pancasila. Bakti sosial ini sebagai wujud kesetiaan terhadap NKRI,” jelasnya.

Agung mengakui napi yang terlibat bersih-bersih masjid itu merupakan napi kasus perjudian dan penganiayaan. Ada juga 4-5 napi yang bekerja bakti membersihkan saluran drainase di depan LP.

“Para napi yang kami libatkan bukan karena menjelang bebas tetapi memang dipilih. Untuk pendanaannya kami menggandeng Lazismu Sragen. Kami tidak khawatir mereka kabur. Kami terbuka kepada lembaga mana pun bila ada program, LP siap menggerakkan napi sebagai tenaganya,” ujarnya.