Sebatang Kara, Mbah Wasiti Boyolali Butuh Uluran Tangan

Rumah Mbah Wasiti di Simo Boyolali (Istimewa/Sukarelawan Boyolali)
01 Agustus 2018 01:00 WIB Aries Susanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Seorang perempuan manula di Desa Pentur, Simo, Mbah Wasiti, 65, membutuhkan uluran tangan dari para dermawan. Selain hidup berkawan kemiskinan, perempuan tersebut juga hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Senin (30/7/2018), Mbah Wasiti sudah tak memiliki suami sebagai tulang punggung keluarga.
Perempuan malang itu, juga tak memiliki anak apalagi cucu yang bisa diharapkan uluran tangannya. Dia hidup dari uluran tangan para tetangga yang iba atas kondisi hidupnya diimpit kemiskinan.

Salah satu dermawan yang menolak disebut identitasnya menjelaskan, Mbah Wasiti tinggal di sebuah gubuk yang sangat tidak layak di RT 002/ RW 001 Dukuh Pancoran, Desa Pentur, Simo. Atap bocor, dinding dari anyaman bambu lapuk di makan usia dan lantai tanah.

"Mbah Wasiti juga tidur di permukaan dipan tua tanpa kasur, hanya beralas tikar yang juga mulai lapuk," jelas dermawan tersebut kepada Solopos.com Senin (30/7/2018).

Saat ia menjenguk Mbah Wasiti beberapa watu lalu, ia tak mendapati makanan sama sekali di gubuknya. "Katanya, tak ada yang dimasak hari itu. Saat kami coba mengintip isi wajan yang ia punya, hanya ada sisa gendar kemarin. Nyesek dan pedih," ungkapnya.

Ia mengajak kepada para dermawan di Boyolali untuk bersama-sama membantu Mbah Wasiti, baik kebutuhan hidupnya, tempat tinggalnya, maupun teman untuk bisa diajak berbincang.

Kebutuhan 

Rumah warga miskin di Boyolali, Mbah Wasiti

"Kami berharap semakin banyak orang berkunjung ke Mbah Wasiti. Karena bagaimanapun hidup sendiri tidaklah mudah. Semakin banyak silaturahmi, semakin banyak kunjungan, semakin banyak bertemu saudara dan kerabat, sisa hidup mbah Wasiti bisa lebih bermakna. Karena bagaimanapun ia butuh keluarga, butuh kita," ungkapnya.

Menurut informasi yang ia terima, tahun ini Mbah Wasiti akan menerima bantuan Rp10 juta dari program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Koordinator Sukarelawan Boyolali, Subarjo, membenarkan informasi tersebut.

Saat ini, pihaknya bersama sukarelawan lainnya tengah menghimpun tenaga dan dana untuk merehab rumah dan memberikan bantuan secara berkelanjutan kepada Mbah Wasiti.

"Rumahnya nyaris roboh. Mungkin disapu angin dan hujan langsung roboh," jelasnya.

Camat Simo, Hanung Mahendra, saat dimintai konfirmasi masih berada di luar daerah. Dalam kesempatan sebelumnya, Hanung pernah menyampikan bahwa pemerintah terus menyalurkan dana untuk program RTLH di setiap desa yang masih terdapat rumah tak layak. Besaran anggaran, senilai Rp10 juta. "Selain itu, juga ada program rastra [beras sejahtera], kartu sehat, dan lain-lainnya," jelasnya tempo hari.