Mengetahui Data Sapi di Boyolali Kini Cukup Melalui Scan QR Code

Wakil Bupati Boyolali M. Said Hidayat memindai QR code pada ear tag di telinga sapi dalam acara peluncuran Simapi yang menjadi rangkaian acara Kontes Ternak dan Bursa Hewan Kurban Boyolai 2018 yang diselenggarakan Disnakkan Boyolali di bakal Pasar Hewan Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Rabu (25/7 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
01 Agustus 2018 15:25 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALIPemkab Boyolali mengembangkan sistem informasi monitoring sapi (Simapi) bagi ternak sapi yang ada di wilayah tersebut. Simapi ini memuat semua data diri sapi mulai dari riwayat vaksinasi hingga riwayat kepemilikannya.

Sistem yang dikembangkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) ini sudah diujicoba kepada dua ekor sapi milik Sunarto, peternak asal Kiringan, Boyolali Kota. Sistem ini juga sudah diluncurkan pada acara Kontes Ternak dan Bursa Hewan Kurban Boyolai 2018 yang diselenggarakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali di bakal Pasar Hewan Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Rabu (25/7/2018).

Kepala Diskominfo Boyolali Abdul Rahman melalui stafnya, Burhan Abdillah, mengatakan seperti namanya, Simapi dipakai untuk memonitor masing-masing sapi yang ada di Boyolali. “Ini untuk monitoring data ternak dan peternaknya yang berisi informasi tentang sapi seperti penyakit yang diderita, obat-batan yang sudah diberikan, dan lain-lain. Nanti ada semua,” ujarnya di acara peluncuran.

Sapi yang datanya sudah diimput pada sistem akan diberi lempeng QR code yang dipasang di telinga. Sehingga orang yang ingin mengetahui data sapi bersangkutan tinggal memindai QR code tersebut dengan QR reader pada ponsel yang sebelumnya sudah terpasang aplikasinya.

Sementara itu, Kepala Disnakkan Boyolali Juwaris melalui Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Afiany Rifdania mengatakan, untuk tahap awal (2018), pada 2018 sistem ini akan diaplikasikan kepada 5.000 ekor sapi perah yang berada di Banyuanyar, Kecamatan Ampel dan Desa Singosari Kecamatan Mojosongo.

“Awalnya ini nanti untuk 5.000 sapi di Banyuanyar dan Singosari, masing-masing 2.500 ekor sapi perah yang long life atau hidupnya panjang. Ke depan harapannya semua sapi di Boyolali akan masuk dalam Simapi ini,” ujarnya.

Sebagai persiapan, pihaknya akan memberikan pelatihan kepada 80 petugas, baik PNS maupun pihak swasta yang terkait dengan ternak. Mereka akan diberi pelatihan mengenai cara mengimput data ternak, mulai dari riwayat vaksinasi, reproduksi, lalu lintas.

“Mereka inilah yang nantinya akan mengimput data atau mengubah data sapi. Misalnya petugas memberikan vaksinasi, mereka sekaligus mengimput data ke sistem. Begitu pula juga jika sapi dijual, ada petugas di pasar hewan yang mengubah data kepemilikan. Sehingga semua riwayat sapi bisa terdata,” kata dia.

Jauh ke depan, Simapi juga akan terkoneksi dengan data kependudukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil). “Sehingga seorang dapat diketahui tentang kepemilikan ternaknya.”

Sementara itu, Sunarto, 58, peternak asal Kiringan, Kecamatan Boyolali Kota yang sapinya sudah dipasangi CR Code menyambut baik Simapi ini. Menurutnya, sistem ini nantinya akan mempermudahnya dalam memberikan keterangan kepada pihak lain mengenai sapinya. “Kalau suatu saat ini sudah berjalan dan ada orang yang ingin tahu sapi saya, tinggal scan QR codenya,” kata dia.