Pengaspalan Jalan Desa Trunuh Klaten Salahi RAB

Kondisi Jalan Caraka di Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Rabu (1/8 - 2018). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
01 Agustus 2018 18:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pengaspalan jalan Desa Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, menyalahi rencana anggaran dan biaya (RAB). Proyek ini sebelumnya disetop paksa oleh warga karena ditengarai tak sesuai spesifikasi.

Dalam RAB disebutkan perbaikan Jl. Caraka ke selatan bervolume 480 meter (m) x 3 m x 0,02 m namun realiasinya tebal aspal sekitar 0,01 m. Informasi yang dihimpun Solopos.com, aspal hasil perbaikan jalan terasa bergelombang di bagian selatan.

Sedangkan di sisi utara dekat Perumahan Griya Trunuh Indah, aspal dipasang di atas jalan beton. Ketebalan aspal sekitar satu sentimeter. Dana perbaikan jalan itu disebut-disebut dibagi untuk pengaspalan jalan di ruas lain yang tidak masuk ke dalam RAB.

Kepala Desa (Kades) Trunuh, Kecamatan Klaten Selatan, Sumarwanto yang akrab disapa Marwan, mengatakan perbaikan Jl. Caraka ke selatan didanai Dana Desa 2018 senilai Rp107,250 juta. Selain pengaspalan, ada kegiatan lain di jalan itu yakni pemasangan rabat hingga lebar jalan bertambah dari 2,5 m menjadi 3 m.

Pemasangan rabat ini memakai sistem Padat Karya Tunai (PKT).”Jadi setelah lebar jalan sama lalu diaspal dengan lebar tiga meter dan tebal dua sentimeter,” kata dia saat ditemui Solopos.com di kantornya, Rabu (1/8/2018).

Ia menjelaskan soal jalan bergelombang terjadi karena jalan itu sempat ambles dilintasi truk. Jalan itu belum diperbaiki ke ukuran normal. Berhubung pekerjaan mendesak, jalan itu lalu ditumpangi aspal. “Jadi kesannya bergelombang,” terang dia.

Disinggung soal tebal jalan yang hanya satu sentimeter, Marwan mengatakan tebal aspal 2 cm yang dimaksud adalah tebal aspal basah. Akibatnya, hasil pemadatan oleh alat berat didapat ketebalan aspal sekitar 1,5 cm.

Tak hanya itu, atas dasar pemerataan, dana perbaikan Jl. Caraka itu juga dialokasikan untuk pengaspalan jalan alternatif sambungan dari Jl. Caraka dan jalan di Dukuh Tegalsari. Perngaspalan dua ruas jalan itu tidak masuk ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB) Desa.

“Jadi di RAB enggak ada. Karena ada permintaan warga, pengaspalan dilanjutkan ke barat [ke arah Tegalsari]. Ini kehendak masyarakat supaya tidak nanggung. Tebalnya lumayan yang penting halus,” tutur Kades.

Pada kesempatan yang sama, Kaur Keuangan Desa Trunuh, Siswadi, mengatakan dana desa untuk perbaikan Jl. Caraka senilai Rp107.250.000 itu belum cair. Namun, pengaspalan dilakukan terlebih dahulu bersama dengan perbaikan di Dukuh Mayungan, Mranggen, dan Bendan di utara Jl. Solo-Jogja.

Pertimbangannya adalah biaya sewa alat berat, mahal, dan kontraktor enggan melaksanakan jika perbaikan hanya sedikit. “Dikerjakan dulu sekalian. Jadi enggak pakai jaminan, hanya kepercayaan. Modalnya hanya pagu dalam program di APB Desa. Ini kan pakai dana desa, jadi ada jaminan turun,” beber Siswadi.

Ia membantah dana pengaspalan Jl. Caraka sengaja disisakan agar merata ke ruas jalan lain. Dana itu kebetulan sisa karena situasi di lapangan.

“Jalan beton itu ada yang sudah rusak. Sebelum diaspal ada yang tinggi dan rendah jadi berdampak ke sisa. Kalau sisa terus diboyong uangnya, itu tindak pidana korupsi. Ini kan dialokasikan ke jalan lain,” ujar dia.