Perkampungan di Klaten Ini Produksi Pisau Dapur untuk Iduladha

Pengrajin di Desa Keprabon, Polanharjo, Klaten, menjemur pisau dapur, Rabu (1/8/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
01 Agustus 2018 20:55 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Dentingan logam bersahutan dengan suara gerinda listrik memenuhi perkampungan di Dukuh Kladungan dan Klamongan, Desa Keprabon, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Di teras masing-masing rumah, warga sibuk membentuk pelat besi dan baja menjadi pisau beragam ukuran, sabit, hingga golok.

Perkampungan di dua dukuh itu selama ini dikenal sebagai salah satu sentra pengrajin pisau dapur di Klaten. Jumlahnya lebih dari 50 pengrajin. Jinanto merupakan salah satu pengrajin di desa setempat.

Tokopedia

Selama enam tahun terakhir, Ketua RT 07 Dukuh Kladungan itu meneruskan produksi pisau dapur yang sebelumnya dijalankan oleh adiknya. Ciri khas pisau dapur produksi Jinanto memiliki gagang logam. Saban hari, ia memproduksi sekitar lima kodi atau 100 pisau dapur berbahan 3 kg pelat besi.

Melalui penyalur, satu kodi pisau dapur produksi Jinanto dihargai Rp50.000. Pisau hasil produksinya dipasarkan ke Salatiga, Semarang, serta Jogja. “Kalau pendapatan bersih rata-rata per hari itu Rp70.000,” kata Jinanto saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Rabu (1/8/2018).

Selain sapi dan kambing, pisau menjadi salah satu benda yang diburu warga menjelang Iduladha. Alhasil, para pengrajin pun kebanjiran permintaan pisau. Tak terkecuali Jinanto yang selama ini kerap diminta memproduksi lebih banyak pisau saban harinya.

Namun, ia tak bisa serta merta memenuhi permintaan tersebut. Salah satunya lantaran terbatasnya bahan baku. Jinanto mengatakan besi untuk membeli pisau dapur selama ini kian sulit didapat. Harganya pun kian mahal. Besi yang ideal guna membuat pisau dapur memiliki campuran baja. “Biasanya itu besi janur yang untuk ikat kapas. Tetapi, ikat kapas itu sudah diganti dengan plastik sehingga besi yang dibutuhkan untuk membuat pisau sulit. Sekitar 10 tahun lalu harga bahan baku Rp2.500/kg dan melimpah. Sekarang sudah Rp9.000/kg,” ungkapnya.

Jinanto mengatakan menjelang Idul Adha seperti saat ini, bahan baku untuk membuat pisau kian langka. Hal itu menyusul tingginya permintaan dari para pengrajin. Jinanto pun memilih membeli persediaan bahan baku lebih banyak.

Tidak tahu penyebabnya apa, ketika menjelang Iduladha seperti ini permintaan meningkat tetapi bahan baku sulit. Saya sudah membeli persediaan besi setengah kuintal agar tetap bisa produksi. Pengrajin di wilayah kami biasa mendapatkan bahan baku dari pengepul yang juga ada di desa,” katanya.

Pengrajin pisau lainnya, Suraji, 41, mengatakan sebelum Ramadan hingga Iduladha permintaan pisau terus meningkat. Namun, ia menilai meningkatnya permintaan pisau itu tak dirasakan langsung oleh para pengrajin.

Bagi kami pelaku industri rumah tangga itu sama saja. Jumlah produksinya tetap. Tetapi memang ada yang pesan untuk jenis pisau tertentu guna menyembelih kurban atau mengeluarkan isi usus,” jelasnya.

Suraji membenarkan bahan baku untuk pembuatan pisau kian sulit. Hal itu terutama untuk jenis pisau dapur dengan bahan baku campuran besi dan baja. “Kalau seperti saya yang menggunakan bahan baja tidak sulit. Bahan bakunya mahal sehingga tidak banyak yang beli,” katanya.

Salah satu pemasar pisau di Desa Keprabon, Ny. Giyono, 41, mengatakan permintaan pisau menjelang Iduladha terutama jenis pisau yang berukuran besar. Hanya, akhir-akhir ini produksi pisau semakin berkurang. Selain sulitnya bahan baku, para pengrajin kerap libur. “Setelah Ramadan ini sering ada hajatan sehingga para pengrajin itu kerap libur,” katanya.