Ganjar: Guru Tidak Belajar Ya Dilibas Muridnya...

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengajar di SMAN Mojogedang pada rangkaian kunjungan kerja di Karanganyar, Rabu (1/8 - 2018). (Sri Sumi Handayani)
01 Agustus 2018 20:52 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Orang nomor satu di Pemerintah Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, disambut nyanyian dan yel-yel saat masuk pintu gerbang SMAN Mojogedang, Rabu (1/8/2018). Sekolah yang berada di area persawahan di Jalan Raya Grompol-Jambangan, Desa Kedungjeruk, Kecamatan Mojogedang, itu mendapat kunjungan Gubernur Jawa Tengah itu.

Sejumlah remaja putri kasak kusuk, malu-malu, cekikikan saat melihat lelaki berperawakan tinggi semampai dengan rambut khas warna putih itu turun dari mobil. Begitu turun dari mobil, Ganjar dan rombongan langsung menunaikan Salat Zuhur di masjid sekolah.

Tokopedia

Ratusan siswa mengenakan seragam putih-putih, guru, dan karyawan mengenakan seragam batik warna kombinasi hitam dan cokelat ikut merangsek ke dalam masjid untuk salat. Tidak seperti biasa, Ganjar tidak mengajar siswa di kelas maupun aula. Dia mengajar di serambi masjid yang cukup luas sehingga bisa menampung ratusan orang saat salat berjamaah. Sebagian anak yang tidak tertampung di serambi masjid, terpaksa duduk di dalam masjid maupun berdiri di luar masjid.

Acara dimulai dari sambutan Kepala SMAN Mojogedang, Purwadi. Purwadi adalah salah satu kepala sekolah yang ditelepon Ganjar saat penerimaan siswa baru beberapa waktu lalu. Ganjar menelepon karena menerima laporan penyalahgunaan surat keterangan tidak mampu (SKTM) di tiga sekolah, salah satunya SMAN Mojogedang.

Seperti pejabat atau pimpinan lain yang menerima kunjungan kepala pemerintahan, Purwadi juga memanfaatkan momen itu untuk meminta pertolongan. Dia menyinggung tentang sekolah yang tidak memiliki aula dan kekurangan ruang kegiatan belajar. "Acara ini ditempatkan di masjid karena tidak punya aula. Ruang kegiatan belajar masih kurang enam. Kami juga kurang personel guru. Ini tanah milik sekolah tapi masih atas nama perorangan," ujar Purwadi.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menanggapi tentang aset SMAN Mojogedang. Dia memberi waktu kepala sekolah menyelesaikan persoalan itu selama satu bulan. "Guru bantu assessment siswa. Kamu itu sebetulnya pingin masa depan mu seperti apa. Perubahan demikian cepat. Sumber daya manusia akan menempati paling utama. Kalau hanya biasa-biasa saja ya lewat. Disiapkan dari sekarang," tutur Ganjar.

Dia melanjutkan pelajaran dengan menyampaikan peribahasa, yakni sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Ganjar meminta salah seorang siswa menjelaskan arti peribahasa. Saat itulah, proses belajar dimulai. Ganjar kaget karena tidak ada siswa yang mengetahui peribahasa tersebut. Satu siswa perempuan mengacungkan jari. Itupun setelah dia mendapat bantuan dari salah seorang guru.

Ganjar meminta siswa tersebut menyebutkan peribahasa lain. Siswa tersebut menyebutkan peribahasa yang terkenal yakni berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. "Secara visual, mengajar itu seperti ini. Kamu harus berani ngacung. Membangun kepercayaan diri dan kejujuran. Itulah integritas. Saya ingatkan wali murid memantau putrane njenengan. Jangan sampai salah pergaulan. Masih muda disiapkan masa depan," jelas dia.

Ganjar menyinggung perkembangan zaman. Di mana generasi muda sudah melek teknologi. Dari teknologi itulah generasi muda belajar paham radikal. Oleh karena itu, guru tidak bisa hanya menjalankan fungsi mendidik di sekolah. "Tantangan anak muda zaman sekarang. Guru ora sinau ya lewat. Dilibas muridnya. Guru jadi fasilitator. Mendidik tidak hanya di sekolah tapi di masyarakat juga," tutur dia.

Ganjar juga mengingatkan komite sekolah dan wali murid bekerja sama meningkatkan kualitas sekolah. Pada kesempatan itu, Ganjar membagikan hadiah buku dan bola kepada siswa yang berani maju menjawab pertanyaan maupun mengajukan pertanyaan kepada Ganjar. Tiga siswa maju dan memberikan pertanyaan kepada Ganjar tentang tips meraih kesuksesan ala Ganjar.

"Orang tua saya miskin. Utang banyak. Yang bayar anak-anaknya. Saya enggak diterima di SMA negeri. Lalu saya sekolah di Yogyakarta. Jauh dari orang tua membuat saya tanggung jawab, prihatin, belajar rajin, supaya sukses. Saya lulus rangking dua. Kita punya cita-cita kuliah S1 di UGM, bisa. Mau lanjut S2, kerja dulu menabung. Pingin kuliah di UI, bisa. Intinya belajar serius, minta rida orang tua, dan tidak berhenti berdoa," tutur Ganjar saat menjawab pertanyaan salah satu siswa, Imratun atau Iim.

Ganjar menutup kegiatannya di SMAN Mojogedang dengan bersalaman dan melayani foto bersama siswa maupun guru dan karyawan sekolah. Ganjar melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Karanganyar. Dia menyambangi sejumlah tempat, seperti OISCA Training Center Karanganyar, Pasar Matesih dan Dung Do di Desa Gantiwarno Matesih. Pasar dan Dung Do dibangun menggunakan anggaran bantuan keuangan dari Provinsi Jawa Tengah. Pasar Matesih menerima Rp10 miliar sedangkan Dung Do Rp1,25 miliar. Dua proyek itu mendapat alokasi pada 2016.