UGM Bikin Sekolah BUM Desa di Klaten

Kepala desa dan pengelola BUM desa di Klaten mengikuti sosialisasi Perda No 1/2018 tentang Pendirian dan Pengelolaan BUM Desa di aula kantor Desa Sumberejo, Klaten Selatan, Klaten, Kamis (2/8/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
02 Agustus 2018 19:30 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Jumlah Badan Usaha Milik (BUM) desa di Klaten saat ini 219 BUM desa dari total 391 total. Hanya, belum semua BUM desa masuk kategori maju hingga mandiri. Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja pun menginisiasi pembentukan sekolah BUM desa.

Wakil Rektor UGM Prof. Suratman mengatakan dari sekolah tersebut UGM membantu pendampingan seperti pelatihan hingga penerapan teknologi. Model sekolah itu bisa melalui praktik kerja lapangan (PKL) mahasiswa hingga profesor masuk desa.

Tokopedia

“Harapannya BUM desa di Klaten menjadi percontohan model pembangunan ekonomi kreatif berbasis BUM desa sehingga pebisnis desa muncul,” kata Suratman saat ditemui wartawan di sela-sela sosialisasi Perda No 1/2018 tentang Pendirian dan Pengelolaan BUM Desa di aula kantor Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan, Rabu (2/8/2018).

Ia menjelaskan sekolah BUM desa terintegrasi dengan sekolah sungai dan sekolah srikandi sungai yang sudah terbentuk di Kabupaten Bersinar. “Kami sudah mulai gerakan sekolah sungai ada srikandi sungai. Sekarang mulai membentuk sekolah BUM desa dan nanti terintegrasi dengan sekolah sungai. Dari sekolah sungai itu sudah ada 15 taman sungai yang bisa dikelola untuk mendatangkan duit dikelola BUM desa,” urai dia.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Rika Fatimah, menjelaskan masih ada kecenderungan pemerintah desa yang pesimistis lantaran merasa tak memiliki potensi yang bisa digarap. Ia menjelaskan potensi tak melulu bergantung dengan kondisi di sekitar desa seperti air.

“Yang namanya bisnis selain menemukan potensi, bisa saja dengan menciptakan potensi. Orang Indonesia pintar untuk seperti itu. Kekurangannya itu tidak terstruktur dan gerakannya masih sendiri-sendiri. Makanya, dibentuk BUM Desa school ini melalui tetrapreneur yang saling berkaitan dari rantai wirausaha, pasar wirausaha, kualitas wirausaha, hingga akhirnya branding,” jelas dia.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Klaten, Jaka Purwanto, mengatakan perkembangan BUM desa di Klaten signifikan. Sejak 2010 hingga 2015, sebanyak 68 BUM desa terbentuk. Jumlah itu meningkat pada 2016 sebanyak 77 BUM desa, 2017 sebanyak 70 BUM desa, dan Januari-Juli 2018 sebanyak empat BUM desa. Sehingga, dari total 391 desa sudah terbentuk 219 BUM desa.

“Yang belum membentuk BUM desa itu ada 172 desa. Desa-desa lain harapannya termotivasi membentuk BUM desa. karena salah satu terobosan meningkatkan perekonomian masyarakat itu melalui BUM desa,” tutur dia.

Direktur BUM Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Margono, mengatakan BUM desa baru terbentuk di desanya tahun ini. Dari pembentukan, BUM desa yang ia kelola berencana menggarap kampung rambak di Dukuh Tukuman yang selama ini dikenal sebagai pengrajin rambak. “Selama ini sudah ada hanya belum termanajemen dengan baik,” katanya.