1.178 Ha Sawah di Selogiri Bera

Warga mencari ikan di Waduk Krisak, Desa Pare, Selogiri, Wonogiri, Rabu (1/8/2018). Waduk tersebut sebagian besar sudah kering. (Solopos - Rudi Hartono)
02 Agustus 2018 14:29 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Lahan pertanian seluas 1.178 hektare (ha) di Selogiri, Wonogiri pada masa tanam (MT) III ini terancam bera atau tak digarap karena mulai tak mendapat irigasi.

Waduk Krisak di Desa Pare, Selogiri yang menjadi sumber irigasi mulai mengering.

Tokopedia

Hanya sebagian kecil petani yang tetap menanam padi karena bisa mendapatkan air dengan cara menyedot dari Saluran Induk Colo Barat.

Pantauan Solopos.com di areal persawahan Kelurahan Kaliancar, Rabu (1/8/2018), mayoritas lahan pertanian kering.

Kondisi yang sama juga terlihat di areal persawahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri.

Sementara itu, Waduk Tandon sebagian besar sudah menjadi tegalan yang ditanami jagung. Air yang masih tertampung hanya di area sisi barat.

Petani asal Jendi, Selogiri, Sukiran, sudah terbiasa membiarkan sawahnya seluas 3.000 m2 bero pada MT III. Pada masa itu dia hanya bisa mengandalkan hasil panen pada MT I dan II untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Setiap panen dia mendapatkan hasil panen lebih kurang 2 ton gabah.

Dia menjual seluruh hasil panen MT I, biasanya memperoleh laba bersih Rp4 juta. Hasil panen MT II dijual secara bertahap sesuai kebutuhan.

Sebagian lainnya untuk cadangan pangan selama menghadapi kemarau.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Selogiri, Misran, mengatakan minimnya air yang mengalir ke sawah mengakibatkan produksi padi MT II lalu kurang maksimal.

Misran mencatat angka produktivitas padi sebanyak 6 ton/ha atau 12.270 ton gabah kering panen (GKP). Produksi pada MT yang sama tahun lalu tercatat 13.128 GKP.

Memasuki MT III ini hanya sebagian kecil sawah yang tetap bisa ditanami, yakni hanya lebih kurang 867 ha dari total luas lahan pertanian di Selogiri 2.045 ha. Sawah yang masih bisa ditanami sebagian besar ditanami padi, luasanya tercatat 800 ha.

Sawah itu terdapat di sebagian lahan di Desa Jaten, Nambangan, Pule, dan Sendang Ijo.

Petani menanam padi karena masih bisa mendapatkan air dengan cara menyedot dari Saluran Induk Colo Barat.
Selebihnya, yakni 67 ha ditanami tanaman hortikultura, seperti semangka, melon, dan lombok.