Elpiji 3 Kilogram di Sragen Melambung Capai Rp21.000

ilustrasi elpiji melon 3 kg. (Solopos/Dok)
03 Agustus 2018 09:30 WIB Kurniawan Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN – Harga gas elpiji tiga kilogram (bersubsidi) di Kabupaten Sragen melambung beberapa hari terakhir. Di beberapa desa harga gas melon mencapai Rp20.000-Rp21.000.

Diduga peningkatan harga terjadi karena tingginya permintaan gas elpiji untuk memenuhi kebutuhan pertanian. Petani menggunakan elpiji tiga kilogram untuk bahan bakar menyedot air.

Tokopedia

Tokoh masyarakat Desa Katelan, Kecamatan Tangen, Sri Wahono, kepada wartawan, Kamis (2/8/2018), menuturkan harga elpiji di Katelan dan sekitarnya mencapai Rp20.000 per tabung.

Sedangkan di Desa Bandung, Kecamatan Ngrampal, harga barang yang sama mencapai Rp21.000 per tabung. Padahal harga eceran tertinggi (HET) elpiji tiga kilogram Rp15.300 per tabung.

"Kami khawatir ada pihak-pihak yang menjual elpiji jatah Sragen ke luar wilayah Bumi Sukowati. Kasihan warga kalau benar ada yang seperti itu. Tolong pemerintah memantau," ujar dia.

Sedangkan Ketua Komisi II DPRD Sragen, Sri Pambudi, saat diwawancara wartawan mengatakan fenomena tingginya harga elpiji tiga kilogram biasanya terjadi saat musim kemarau. Sebab saat tidak ada hujan petani membutuhkan elpiji untuk mendapatkan air. "Persoalan elpiji tiga kilogram ini dilematis. Di satu sisi tak sesuai peruntukan, di sisi lain petani butuh air," kata dia.

Menurut Pambudi petani menggunakan elpiji tiga kilogram karena terpaksa. Mereka butuh air agar tanaman mereka tak gagal panen. Penggunaan elpiji membuat biaya produksi bengkak.

"Dari mestinya mereka bisa mendapatkan air secara gratis dari aliran irigasi, menjadi harus keluar uang untuk beli gas dan sewa diesel. Artinya mereka saja merugi dengan begitu," imbuh dia.

Politikus Partai Golkar tersebut berharap Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen segera mengatasi masalah tersebut dengan mengajukan tambahan kuota gas tiga kilogram.

"Memang baru-baru ini saya lihat ada beberapa antrean warga yang membutuhkan elpiji tiga kilogram. Saya minta Disperindag pro aktif dengan segera mengambil langkah," ujar dia.

Terpisah, Kepala Dsiperindag Sragen, Untung Sugihartono, mengakui persoalan melambungnya harga elpiji tiga kilogram sering terjadi pada musim kemarau karena digunakan untuk pertanian.

Persoalan tersebut menurut dia dilematis karena menyangkut nasib tanaman padi petani Sragen. Pelarangan tegas penggunaan elpiji tiga kilogram menurut dia bisa membuat tanaman gagal panen.

Agar harga elpiji tiga kilogram tak terus melambung, dan tak terjadi kelangkaan, menurut Untung pihaknya sudah mengajukan tambahan kuota gas. Tambahan 3.000 tabung sudah dikirim Juli 2018.

Kebutuhan normal bulan Juli di angka 29.500 tabung. Sedangkan pada bulan Agustus ini Disperindag mengajukan kebutuhan elpiji tiga kilogram sebanyak 69.440 tabung.