Test HIV di Pasar Bunder Sragen, 2 Warga Positif

Warga seputar Pasar Bunder mengikuti VCT di Pasar Bunder selatan, Jumat (3/8 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
03 Agustus 2018 20:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sragen menemukan dua orang positif HIV/AIDS saat menggelar voluntary conselling and testing (VCT) di Pasar Bunder sebelah selatan, Jumat (3/8/2018).

VCT yang dilakukan tim KPA dan stakeholders tersebut diikuti 34 warga yang biasa beraktivitas di pasar tersebut. Koordinator Program KPA Sragen, Wahyudi, saat dihubungi Solopos.com, Jumat siang, mengatakan VCT dilaksanakan dengan pendekatan edutainment, yakni sosialisasi yang dikemas dengan pertunjukan musik dangdut atau organ tunggal.

Dia mengatakan VCT tersebut menyasar pada pedagang pasar, anak jalanan, sopir, masyarakat umum, dan pengamen. “Target kami sebenarnya hanya 30 orang tetapi yang mau diambil sampel darahnya saat VCT ada 34 orang. Dari hasil tes darah tersebut, dua orang di antaranya positif terinfeksi virus HIV/AIDS. Kami sengaja mengambil lokasi di situ karena banyak anak jalanan dan pengamen yang belum tersentuh. Pasar Bunder kidul itu sering jadi tempat berkumpul mereka,” ujar Wahyudi.

Wahyudi menjelaskan temuan kasus HIV/AIDS di Sragen Kota paling banyak dibandingkan kecamatan lainnya. Atas dasar itulah, KPA lebih intensif menyisir lewat VCT di wilayah kota Sragen.

“Saya belum mendapat keterangan dua orang yang positif itu dari kelompok apa dan jenis kelaminnya juga belum diketahui. Temuan dua orang positif itu menunjukkan prevalensinya cukup tinggi. VCT yang dilakukan di Puro beberapa waktu lalu tidak ada laporan yang positif,” imbuhnya.

Wahyudi menjelaskan penanganan kasus baru itu biasanya ada tim konselor VCT yang datang untuk pengobatan dan pendampingannya dilakukan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Dia mengatakan pendampingan KDS itu penting untuk memastikan yang bersangkutan tetap rutin minum obat antiretro viral (ARV).

“Kuncinya agar tetap sehat hanya lewat akses ARV, yakni obat khusus HIV yang berguna mempertahankan bahkan meningkatkan imun tubuh yang melemah akibat virus HIV,” tuturnya.

Kegiatan VCT itu dilakukan dengan mendatangkan penyanyi campursari. Salah seorang pengamen asal Ngepringan, Jenar, Sragen, Jumini, 46, menjadi salah satu warga yang ikut VCT.

Ia baru kali pertama mengikuti tes itu. Ia tidak tahu tentang HIV/AIDS. Ia hanya tahu kalau kegiatan itu hanya untuk mengantisipasi adanya penyakit HIV/AIDS.

“Saya tinggalnya ya di salah satu kios dalam pasar ini. Kami sewa Rp30.000/hari. Kami tinggal bersama suami yang menjadi tukang becak. Saya ngamen dengan menyewa salon keliling. Sewa salonnya Rp20.000/hari. Penghasilan saya Rp40.000/hari. Kalau suami juga sewa becak Rp3.000/hari,” ujarnya.