PKL Donohudan Boyolali Keluhkan Sepinya Pembeli

Ilustrasi penertiban PKL. (Dokumen Solopos/Irawan Sapto Adhi)
03 Agustus 2018 10:32 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang menempati area selatan Asrama Haji Donohudan mengeluhkan sepinya pembeli. Padahal beban uang sewa yang mereka tanggung meningkat dari tahun sebelumnya. Salah satu pedagang, Sri Suyamti, mengaku semakin hari pengunjung semakin sepi. Padahal dia menyewa kios senilai Rp1 juta untuk musim haji tahun ini.

"Paling banyak cuma dapat uang Rp500.000 itu pun cuma di lima hari pertama," ujarnya saat ditemui Espos di tempatnya berdagang, Rabu (1/8) pagi. Sri mengaku mengandalkan para pengantar haji sebagai konsumen dagangannya. Namun tahun ini pengantar tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa kios yang ada di depan kios Sri tampak tertutup. Kios-kios itu milik pedagang yang dulunya berdagang di sisi utara. Sri mengatakan pedagang-pedagang itu memilih untuk tidak lagi berjualan. "Ya karena sepinya itu, beberapa dari mereka bahkan ada yang nekat kembali lagi ke sisi utara padahal ada pelarangan PKL di sana," kata dia.

Pedagang lain, Andik, juga mengungkapkan hal serupa. Dia harus membayar sewa kiosnya Rp1,5 juta. Nilai itu naik dua kali lipat dari biaya sewa tahun lalu senilai Rp750.000. "Bayar makin mahal tapi pembeli makin sepi," kata Andik.

Andik mengaku kecewa karena pengelola tidak bertindak tegas terhadap pedagang yang menempati bagian depan asrama. Dia mengatakan sisi depan asrama (utara) seharusnya menjadi area steril bagi para pedagang.

"Dulu sudah pernah ditertibkan, tapi kenyataannya sekarang kembali lagi, harusnya ada petugas yang berjaga di situ agar PKL tidak seenaknya," katanya.

Awalnya, Andik adalah pedagang bantal dan pakaian yang menempati utara Asrama Haji. Namun, karena sistem retribusi yang tidak jelas dia memutuskan untuk pindah ke sisi selatan. Dia mengatakan untuk memenuhi biaya sewa itu, sebagian pedagang sisi selatan ada yang kembali berjualan di sisi utara dengan model asongan. "Nanti kalau misal Satpol [PP]datang ya tinggal lari," kata dia.

Pedagang lain, Kabul, juga mengungkapkan hal senada. Kenaikan tarif sewa yang tidak dikomunikasikan dengan baik kepada para pedagang membuat protes mereka belum sepenuhnya tersampaikan kepada pengelola kios.

Penertiban

Berdasarkan informasi yang dihimpun reporter Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni, kawasan PKL di Donohudan tahun ini dilelang senilai Rp100 juta. Pelelangan ini disebabkan oleh banyaknya penyewa yang ingin memanfaatkan kawasan Donohudan sebagai pusat bisnis kala musim haji.

"Untuk menutupi kebutuhan dana itu, akhirnya para pedagang yang dipepet dengan menaikkan tarif sewa," ujar Andik. Dia menambahkan hak penyewaan kawasan Donohudan hanya bisa jatuh ke tangan masyarakat di lingkungan Donohudan. "Jadi kemungkinan besar pelelang adalah orang Donohudan sendiri," ungkap dia.

Kepala Desa Donohudan, Sumartinah, belum dapat dimintai konfirmasi perihal uang sewa itu. Saat solopos.com menyambangi kantor desa, Sumartinah tidak ada di tempat.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Boyolali, Susilo Hartono mengatakan Asrama Haji Donohudan sebenarnya menjadi aset milik provinsi, sehingga menjadi tanggung jawab provinsi dalam pengelolaannya. "Tapi untuk PKL karena dari provinsi itu terlalu jauh jadi kemarin untuk penertibannya meminta bantuan kami," kata dia.

Susilo mengaku tidak bisa total dalam melakukan penertiban karena padatnya jadwal Satpol Boyolali. Namun dia mengatakan kini mulai intensif melakukan penertiban di wilayah Donohudan. "Sepanjang itu tidak tempuk dengan jadwal kami, kami akan kirimkan pasukan ke sana," kata dia.