BUM Desa Dlimas Klaten Garap Limbah Industri

Kantor sekretariat BUM Desa Guyub Rukun dalam proses pembangunan di kompleks kantor Kepala Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Klaten, Jumat (3/8/2018). (Solopos - Cahyadi Kurniawan)
03 Agustus 2018 19:00 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Keberadaan sejumlah industri besar di bidang precast, garmen, dan furnitur menjadi peluang bisnis yang besar salah satunya dari pengumpulan limbah yang dihasilkan. Peluang itulah yang ditangkap Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) Guyub Rukun di Desa Dlimas, Kecamatan Ceper.

BUM Desa menghimpun limbah kain dari perusahaan garmen di wilayah setempat. Hal serupa juga dilakukan untuk limbah pabrik precast berupa besi-besi bekas. Barang-barang limbah itu lalu dijual kepada pengepul kain perca dan besi bekas di sekitar kecamatan Ceper.

Sejak awal berdiri perusahaan ada kerja sama bahwa limbah diambil BUM Desa. Hasilnya lumayan meski belum banyak,” kata Kepala Desa (Kades) Dlimas, Kecamatan Ceper, Giyatmo, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (3/8/2018).

Ia menjelaskan Dlimas dengan luas wilayah 1.453 hektare tidak memiliki sumber daya alam sebagaimana dimiliki desa-desa lain. Sebaliknya, posisinya yang strategis justru menjadi lokasi yang tepat untuk didirikan pabrik-pabrik. “Kami ada satu perusahaan precast, dua pabrik garmen, dan beberapa pabrik furnitur. Ke depan, kami arahkan juga menggarap limbah furnitur. Tapi yang berjalan baru besi dan kain,” tutur Giyatmo.

Sebagai dukungan pengembangan usaha BUM Desa Guyub Rukun, tahun ini desa mengalokasikan Rp100 juta lebih untuk pembangunan kantor sekretariat BUM Desa. Kantor dibangun satu kompleks dengan kantor desa. “Dulu kan masih numpang di sini. Kali ini kami bikinkan dulu kantor sekretariatnya,” terang Kades.

Tak hanya itu, desa berpenduduk sekitar 4.000 jiwa itu juga berencana mengembangkan wisata budaya. Di Dlimas, setiap musim menjelang Ramadan, warga berduyun-duyun menggelar bersih dukuh. Sedangkan, di setiap menyambut tahun baru Hijriyah warga menggelar bersih desa. “Itu agenda turun temurun. Panitianya biasa dilakukan oleh para ahli waris trah. Pengintegrasiannya bagaimana, kami masih kaji,” beber Giyatmo.