Begini Keseruan Festival Gejog Lesung di Klaten

Peserta unjuk kebolehan memainkan lesung dalam Festival Gejog Lesung 2018 di Lapangan Barepan, Cawas, Klaten, Sabtu (21/7 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
03 Agustus 2018 20:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sadam, 11, berdiri di barisan pertama ketika kelompoknya yang bernama Lor Bodem Junior mendapat giliran tampil. Kelompok itu terdiri lima anak laki-laki dan lima anak perempuan yang mengenakan surjan dan sarung kotak-kotak hitam putih.

Penonton yang mengelilingi mereka tersenyum melihat penampilan lima anak laki-laki mengenakan kacamata hitam dengan lukisan kumis di atas bibir. “Ku enggak mau pulang, maunya lesungan,” seru bocah-bocah itu berulang-ulang setelah mendengar aba-aba dari Sadam sebagai pembuka penampilan mereka.

Tokopedia

Sembari berjalan, mereka bersorak hak e…hak e…” berulang-ulang dan ditutup dengan teriakan bukak sithik jos…!” oleh Sadam ketika mereka berhenti di depan tiga juri. Seruan itu diikuti tawa penonton. Mereka lantas mengambil posisi masing-masing.

Lima anak perempuan berbaris di depan juri bersiap menyanyi dan menari. Lima anak laki-laki memegang alu di depan lesung berbahan kayu menyerupai kapal. Ketukan alu pada dinding lesung mengiringi tarian serta nyanyian lagu Lesung Jumengglung.

Lor Bodem Junior dari Dukuh Bororejo, Desa Baran, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten itu menjadi salah satu kelompok yang tampil di Festival Gejog Lesung di depan Joglo Amarto Bororejo, Desa Baran, untuk kategori anak-anak, Kamis (2/8/2018) malam.

Ada delapan kelompok anak-anak yang tampil secara bergiliran. Semakin malam, suasana kian ramai. Warga yang terus berdatangan mengelilingi kawasan joglo hingga jalan kampung yang berbatasan dengan sawah.

Tawa menggema dari kerumunan penonton ketika melihat tingkah para bocah yang tampil bergoyang-goyang di depan juri sembari memukul lesung. Festival malam itu ditutup ketika seluruh kelompok telah mendapat giliran tampil untuk kali kedua dengan menyajikan lagu berbeda.

Aksi kelompok gejog lesung anak-anak usia SD hingga SMP menjadi pembuka festival. Rencananya, festival digelar hingga Kamis (9/8/2018). Ada 40 kelompok gejog lesung dengan delapan kelompok kategori anak-anak.

Mereka tak hanya dari wilayah Kecamatan Cawas. Kelompok yang ikut festival juga berasal dari kecamatan lain seperti Kecamatan Karangdowo, Tulung, Polanharjo, serta Manisrenggo. Setiap kelompok menyajikan dua lagu secara bergiliran dengan masing-masing lagu ditampilkan maksimal selama lima menit.

Lagu yang wajib mereka tampilkan yakni Lesung Jumengglung. Setiap malam ada delapan kelompok yang tampil pada babak penyisihan dengan masing-masing diambil tiga pemenang. Babak semifinal digelar pada Selasa-Rabu (7-8/8/2018).

Untuk menilai para peserta festival, panitia menggandeng para juri dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Penilaian meliputi kekompakan, irama, koreografi, ekspresi, serta kreativitas. “Festival ini digelar kali kedua. Kegiatan ini murni swadaya masyarakat Dukuh Bororejo,” kata Ketua Panitia Festival Gejog Lesung Baran, Bagus Febru Saptono, saat ditemui Solopos.com di arena festival.

Bagus mengatakan festival digelar sebagai media pelestari budaya sekaligus nostalgia kesenian masa lalu yang hampir punah. Puluhan tahun silam para petani di desa itu memanfaatkan lesung sebagai media penumbuk padi. Lesung juga digunakan untuk hiburan ketika ada warga yang menggelar hajatan.

Kami menggali kembali budaya masyarakat kami yang dulu menjadi kegiatan rutin di sini tetapi kini hampir punah sampai lesung yang menjadi alat penumbuk padi pun hampir tidak ada. Mulai surut itu pada 1980-an. Setahun terakhir, setelah muncul festival di sini, warga mulai bergairah bermain lesung. Hingga akhirnya hampir di setiap RW di Baran itu punya lesung. Saat ini ada sekitar 15 kelompok gejog lesung di Baran,” kata Bagus.

Camat Cawas, M. Nasir, mengatakan festival itu menjadi media untuk melestarikan budaya terutama ketika diikuti anak-anak. Ia berharap para peserta festival mengenakan baju berbahan kain lurik sembari mengenalkan potensi Kabupaten Klaten.