Harmoni Indaco: Warga Kebakkramat Bikin Bibit dan Olah Pupuk Organik

Kader harmoni RT 005, Yanto, sedang menata bibit tanaman sayur dan menunjukkan proses pembuatan komposter anaerob di salah satu taman harmoni di kampungnya, Rabu (1/8 - 2018). (Solopos/Sri Sumi Handayani)
04 Agustus 2018 10:30 WIB Sri Sumi Handayani Solo Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Hampir di setiap halaman rumah warga Dusun Karangkidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar terdapat rak kayu dua susun. Mereka menata tanaman sayur pada polybag pada setiap susun rak. Ada tomat, terung ungu, dan cabai. Tinggi tanaman bervariasi 15 sentimeter hingga 60 sentimeter. Ada yang sudah berbuah tetapi ada juga yang sudah layu.

Warga Dusun Karangkidul menerima bibit tanaman sayur cuma-cuma. Mereka hanya diminta merawat dengan cara memupuk setiap dua pekan sekali dan menyiram. Bibit tanaman sayur itu pemberian Yayasan Harmoni. Pengurus Yayasan Harmoni, Nining Solihah Muktamar, menyampaikan Yayasan Harmoni memiliki program Kampung Harmoni di Dusun Karangkidul sejak September 2017. Salah satu program Kampung Harmoni adalah sekolah warga terpadu. Melalui program itu, warga diajari sejumlah ketrampilan, seperti keterampilan membuat tangki komposter, membuat pupuk cair, menerima tamu, dan membuat green house dan bibit tanaman.

Tokopedia

"Program sudah tercapai sekitar 60%," kata Nining saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (1/8/2018).

Hasilnya adalah 15 kader harmoni memiliki keahlian membuat tangki komposter, tiga rukun tetangga (RT) memproduksi pupuk cair.

Pupuk untuk merawat taman dan dijual ke warga sekitar. Dua taman di Kampung Harmoni, yakni taman RT 005 dan 006 rutin dikunjungi warga sekitar setiap hari. Yayasan Harmoni memfasilitasi sembilan kader harmoni mendapat pelatihan menerima tamu. Mereka juga bisa memberikan pelatihan kepada kader lain.

"Pelatihan lainnya membuat green house dan pembibitan. Ada delapan kader harmoni membuat green house mini dan lebih besar. Bibit tanaman sayuran di halaman rumah warga itu bikinan kader harmoni RT 002, RT 004, RT 005, dan RT 006," ujar Nining.

Kader harmoni RT 006, Sunardi, 39, memiliki mini green house sederhana di samping rumah. Dia memasang paranet untuk memastikan bibit tanaman sayuran cukup mendapat sinar matahari. Yayasan Harmoni membantu Sunardi dan tiga orang kader lain untuk membuat mini green house sederhana maupun green house. Bantuan berupa bibit, paranet, plastik, dan polybag.

Konsekuensinya mereka menjual bibit Rp500 per polybag kepada Yayasan Harmoni. Bibit dibagikan kepada warga sedangkan uang hasil penjualan untuk membuat bibit lagi. Lelaki yang bekerja sebagai buruh pabrik itu menekuni usaha selama satu bulan.

"Pas pertama bikin bibit gagal. Saya tanya ke orang berpengalaman. Dapat pelatihan dari penyuluh pertanian Kebakkramat dan Magelang. Ini sayuran organik," ujar dia.

Pembagian bibit gratis kepada warga di delapan RT bertahap. Tahap satu untuk sepuluh rumah di masing-masing RT. Setiap rumah mendapat satu rak susun dan 20 bibit pohon. Tahap kedua juga sepuluh rumah per RT tetapi masing-masing rumah mendapat 30 bibit. Sunardi tersenyum saat ditanya keuntungan. "Kalau saya itu bisa belajar begini saja senang. Lelah tapi kalau lihat tetangga menyirami bibit tanaman itu bahagia. Ini kerja sampingan tetapi banyak manfaat. Saya bisa melatih anak mencintai lingkungan," jelas dia.

Kondisi berbeda terjadi pada green house yang dikelola RT 005. Kader harmoni RT 005 memiliki green house ukuran 6 meter x 4 meter. Kapasitas produksi di green house yang dikelola Yanto ini lebih banyak. Dia mampu membuat 300 bibit tanaman per hari atau mulai pukul 06.00 WIB-18.00 WIB. Sama seperti Sunardi, Yanto bekerja sebagai buruh.

"Kalau saya sudah menjual bibit ke warga luar. Dari Rp400 per bibit ukuran kecil dan Rp3.000-Rp3.500 per bibit ukuran besar. Ada cabai, terung, tomat, selada, brokoli, kubis, dan lain-lain. Saya promosikan lewat facebook. Tapi saya tidak boleh melupakan kewajiban membuat bibit untuk dibagikan kepada warga," jelas Yanto.

Uang hasil penjualan dikelola untuk pembibitan. Sama seperti Sunardi, Yanto merasa puas apabila warga yang menerima bibit mau merawat tanaman hingga panen. Selain membuat bibit, kader harmoni juga mendapat pelatihan membuat pupuk cair menggunakan komposter anaerob. Yanto membuat di salah satu sudut taman RT 005. Bahannya dedaunan kering di taman.

Satu drum ukuran besar dapat menghasilkan 15 liter pupuk cair dalam waktu satu bulan. Sebanyak 15 liter pupuk diecer menjadi 330 mililiter dan dijual Rp6.000. "Intinya supaya warga ikut senang. Sebelum memberikan bantuan bibit, saya meminta kesanggupan warga untuk mau merawat. Dulu menolak karena enggak mau, hla sekarang malah minta," tutur dia.

Dua kader harmoni itu memiliki tujuan akhir, yakni menularkan ilmu membuat bibit kepada warga sekitar. Harapan akhir mereka adalah setiap warga bisa membuat bibit sendiri dan mandiri. "Lingkungan asri, warga sehat karena konsumsi bahan makanan organik. Kesejahteraan meningkat. Saya pinginnya warga belajar sehingga tiap RT bisa membuat sendiri dan mencukupi kebutuhan masing-masing RT."