Kelas Mungil di Desa Klewor Boyolali Ini Berisi 45 Murid

Anak-anak memenuhi ruang kelas Taman Kanak-kanak Darma Wanita Desa Klewor, Kemusu, Boyolali, Jumat (3/8/2018) pagi.(istimewa - Dokumentasi TK Darma Wanita Desa Klewor)
04 Agustus 2018 09:15 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Ani Ruminowati, 50, harus berbicara lebih keras di hadapan murid-muridnya di kelompok TK A, TK Darma Wanita, Desa Klewor, Kemusu, Boyolali, Kamis (2/8/2018) pagi. Suaranya yang mulai parau dimakan usia tidak boleh kalah dengan ocehan 45 bocah yang memenuhi ruang kelas berukuran 3 meter x 3 meter itu.

Kadang, anak didik Ani berebut mengacungkan tangan ketika sang guru bertanya sesuatu. Ada yang lancar menjawab ada pula yang masih malu-malu. Kadang, mereka sampai berdesakan untuk mendapatkan giliran menulis di papan kapur berukuran 1 m x 1 m yang dipaku di depan ruang kelas.

Tokopedia

Di antara 45 bocah itu, Kafka Ramadhan, 5, tampak diam menekuri buku tulisnya. Bocah laki-laki kurus itu didampingi ibunya belajar mengeja. Sesekali, wajah Kafka tersipu malu saat beberapa orang memperhatikannya. Lalu, suara lirih yang keluar dari mulut Kafka pun sejenak berhenti. Ani mengatakan Kafka sedikit mengalami keterlambatan dalam belajar. Selain Kafka, satu anak perempuan lain di kelas Ani juga mengalami masalah yang sama.

TK Darma Wanita menjadi satu-satunya lembaga pendidikan formal tingkat TK untuk anak-anak Klewor. “Itulah sebabnya murid kami membeludak, kami tidak bisa menolak siswa,” ujar Ani saat berbincang dengan reporter Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni, Kamis pagi. Apalagi kesadaran warga terhadap pendidikan pra sekolah dasar di desa semakin meningkat. Pelajaran di TK Darma Wanita tak ubahnya TK lain. Selain bermain, anak-anak sudah diperkenalkan membaca dan menulis sederhana. “Hal ini untuk mempermudah saat mereka masuk SD nanti,” tutur Ani.

Menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Kemusu, Klewor terletak 15 km sebelah barat Waduk Kedung Ombo (WKO) atau 7 km sebelah selatan pertigaan Cepresan, Kecamatan Andong.TK ini diprakarsai oleh Yayasan Darma Wanita yang dulunya aktif melakukan pemberdayaan masyarakat desa. Total, 73 anak belajar di TK ini, 45 anak merupakan siswa TK B dan 28 anak adalah siswa TK A. Jumlah ini, menurut Ani bisa bertambah di pertengahan semester jika ada orang tua yang terlambat mendaftarkan anaknya.

Terletak satu kompleks dengan kantor desa, TK Darma Wanita masih memanfaatkan gedung pertemuan PKK yang disulap lebih rapi dengan cat berwarna biru laut. Meja kursi kayu dengan cat warna-warni yang hamper mengelupas ditata berhimpitan agar semua siswa bisa tertampung.

Di pojok dinding, hasil prakarya siswa berbahan kertas lipat beraneka warna digantung untuk menambah kesan kanak-kanak pada ruangan. Ruangan sempit itu masih dibagi dengan sebuah lemari kecil tempat menyimpan perkakas, seperti krayon, mainan edukatif, dan kertas gambar.

Selain gedung pertemuan PKK, ruang kelas TK A yang terletak di belakangnya juga menggunakan bekas ruang mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang kini sudah tak digunakan. Ruangan itu disulap sebagai ruang kelas Taman Kanak-kanak dengan tambahan gambar-gmbar hewan pada dinding. “Sejak dulu kondisi kami memang begini, sudah bertahun-tahun,” kata Ani.

Di halaman sekolah yang menyatu dengan halaman kantor desa, permainan luar ruangan anak-anak tampak rusak. Hanya ada sebuah prosotan setinggi kira-kira 7 meter yang masih bisa digunakan. Mainan lain seperti ayunan dan jungkat-jungkit sudah berkali-kali diperbaiki dengan pengencangan baut. Beberapa di antaranya terlihat karatan.

Kepala TK Darma Wanita, Sumiyati, mengatakan pihaknya mengharapkan bantuan infrastruktur agar kegiatan belajar siswa. “Paling utama ya gedung itu, agar siswa bisa belajar dengan lebih nyaman,” katanya.