Rugi Miliaran Akibat Upwelling, Begini Langkah Petani Karamba WKO

Ribuan ikan milik nelayan karamba WKO, Kemusu, Boyolali, mati mendadak sejak Minggu (1/7 - 2018) malam. (Istimewa/Budi Siswanto)
04 Agustus 2018 04:46 WIB Anik Sulistyawati Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI - Upwelling terjadi di sebagian kawasan Waduk Kedung Ombo (WKO) di Dusun Bulu, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Boyolali. Fenomena alam ini menyebabkan 100 ton ikan tak bisa dipanen dan kerugian para petani karamba jaring apung (KJA) mencapai miliaran rupiah.

Upwelling merupakan gerak vertikal arus laut yang disebabkan oleh perubahan suhu yang signifikan antara permukaan air dan di dasarnya. Menanggapi fenomena ini KPP Pratama Boyolali bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali mengadakan Program Business Development Services (BDS) di Warung Agung Gako, kompleks WKO, Wonoharjo, Kamis (2/8/2018) siang.

Tokopedia

BDS merupakan metode penyuluhan perpajakan yang digabungkan dengan layanan pengembangan usaha bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Salah satu petani KJA, Kardiyo, mengatakan upwelling terjadi sekitar awal Juli lalu. Air di WKO tiba-tiba agak sedikit berbau seperti air got dengan warna sedikit keruh. "Kemudian kami kasih oksigen dan pompa tapi tidak efektif," kata dia kepada wartawan Solopos.com, Nadia Lutfiana Mawarni.

Kardiyo mengaku upwelling berlangsung cukup singkat di WKO. Kejadiannya sekitar pukul 03.30 WIB hingga pukul 08.00 WIB. Fenomena serupa terjadi di WKO kali terakhir pada 2004 lalu. Untuk mengantisipasi upwelling susulan, para petani KJA akan mengurangi kepadatan ikan.

Dia melihat reaksi ikan setelah terjadinya upwelling, ikan-ikan lebih banyak hidup namun ikan-ikan berukuran besar 100% mati. Selain kepadatan ikan, para petani juga akan mengurangi kepadatan keramba dengan cara menggeser lokasinya ke tempat-tempat yang belum digunakan sebagai lahan budidaya.

Mengurangi Kepadatan Kepala Desa Wonoharjo, Gunadi, mengatakan akibat upwelling ini total kerugian petani ditaksir mencapai miliaran rupiah. Sementara kerugian secara pribadi berkisar hingga Rp20 juta, tergantung ukuran karamba masing-masing. "Yang jelas kematian ikan mencapai 100 ton dan didominasi ikan mas," kata dia.

Kasi Produksi Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali, Deviet Nurmaryani, mengatakan upwelling merupakan fenomena alam. Tanda-tanda upwelling di perairan di antaranya bisa dilihat melalui cuaca, kecerahan air, serta suhu yang menurun drastis.

"Upwelling biasanya terjadi saat angin, mendung, atau hujan," kata dia. Deviet mengimbau kepada para petani untuk mengurangi kepadatan ikan menjelang musim hujan, memanen ikan yang berukuran besar, serta menyiapkan sumber oksigen tambahan.

Dia menambahkan petani harus lebih peka terhadap tingkah laku ikan, gejala alam, dan kualitas air. "Ikan liar yang hidup di dasar air biasanya akan naik ke permukaan sebagai salah satu tanda-tanda upwelling," tuturnya.