Serangan Kudis, Santri Diminta Jaga Kebersihan

Ilustrasi peralatan kedokteran (wikipedia.org)
05 Agustus 2018 15:07 WIB Insetyonoto Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Tim Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo meminta santri di pondok pesantren (ponpes) menjaga kebersihan karena di tempat tersebut sering terjadi kasus scabies atau kudis.

Tim mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UNS Solo baru saja memberi penyuluhan tentang pemberantasan penyakit scabies atau gudik atau kudis di ponpes. Mereka adalah Muh. Nazir Lathif, Fauziah Nurul Laili, Muhammad Daffa Ardiawan, Sha Lisa Indriyani, dan Zahra Dzakiyatin Nisa. Alasan memilih ponpes, menurut Nazif Lathif, karena di tempat tersebut paling sering terjadi kasus penyakit scabies.

“Scabies adalah permasalahan kulit yang menjadi momok bagi santri karena kurang bisa menjaga kebersihan,” katanya, Kamis (2/8/2018). Scabies yang lebih dikenal kudis atau gudik merupakan penyakit yang disebabkan tungau Sarcoptes scabiei var hominis yang menyerang kulit manusia. Penyakit ini menimbulkan rasa gatal, terutama pada malam hari. Bila tidak diobati dapat menyebabkan infeksi sekunder.

“Penyakit scabies ini membuat rasa malu dan mengganggu konsentrasi belajar para santri,” ungkapnya. Nazif bersama teman-temannya dari FK tergerak menggelar kegiatan penyuluhan dan pemberantasan scabies di Ponpes Daarul Quran Surakarta. Kegiatan ini di bawah bimbingan dr. Riza Novierta Pesik dan dokter spasialis penyakit kulit Eko Irawan.

Kegiatan tersebut mendapatkan dukungan dana dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat 2018. “Kegiatan ini kami beri nama Program Eradikasi Massal Scabies [Pro Empatik] pada Ponpes Daarul Quran Surakarta,” jelas dia.

Pelaksanaan Pro Empatik yang dilakukan awal Juli lalu diawali dengan penyuluhan mengenai scabies secara global. Santri diminta mengubah mindset bahwa penyakit itu harus diberantas dan diperangi hingga tuntas. Setelah itu dilakukan screening scabies kepada 173 santri Ponpes Daarul Quran. Hasilnya, dua santri terkena penyakit tersebut. “Kami kemudian melakukan pemberantasan dengan membunuh telur dan tungau dengan cara penjemuran serta perendaman pakaian santri dalam air panas selama beberapa menit,” jelas dia.

Guna menjaga keberlangsungan Pro Empatik, dibentuk tim kader antiscabies di Ponpes Daarul Quran Surakarta. Tim kader terdiri atas perwakilan santri masing-masing kamar. Tugas tim yang telah mendapatkan pelatihan melakukan pencegahan dan pemberantasan scabies.

Direktur Operasional Daarul Quran Surakarta, Muhammad Mujahidin, mengakui dulu santri memang sering terkena penyakit kudis karena lokasi pondok dekat tempat pembuangan sampah (TPS) sehingga air mandi tercemar. Di samping itu, para santri juga tidak menjaga kebersihan seperti handuk jarang dicuci sampai beberapa pekan.

“Pada 2017 terjadi endemi scabies, ada 50 santri terkena scabies,” katanya saat dihubungi Solopos.com, Kamis malam. Namun, sekarang ponpes sudah bersih karena TPS sudah dipindah dan dilakukan penyemprotan tomcat. Santri juga diminta mencuci handuk dan pakaian sepekan sekali. “Pengabdian masyarakat dari mahasiswa FK UNS Solo sangat bermanfaat karena mengajari santri menjaga kebersihan agar terhindar dari scabies,” kata dia.