Viral, Dugaan Premanisme Terhadap Pemilik Kafe di Jebres Solo Berujung Damai

Pemilik Kampoengan Cafe (kiri) bersepakat damai dengan salah satu warga yang terlibat keributan (kanan) dengan disaksikan Kapolsek Jebres Kompol Juliana BR Bangun, Sabtu (4/8 - 2018). (Facebook/Muhamad Fadly Fairuz Sinatria)
05 Agustus 2018 19:00 WIB Ginanjar Saputra Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Netizen khususnya di Kota Solo digegerkan video perseteruan antara pemilik Kampoengan Cafe di Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, Solo, dengan sekelompok warga. Video perseteruan yang kemudian menjadi viral itu kali pertama diunggah si pemilik kafe di akun Facebooknya, Tabitha Lisa Natalia, Jumat (3/8/2018) pukul 22.46 WIB lalu.

Dalam video tersebut, beberapa orang terlibat keributan disertai lontaran kalimat berbau SARA. Tabitha Lisa Natalia menjelaskan keributan itu terjadi pada Jumat (3/5/2018) sekitar pukul 19.00 WIB. Insiden itu bermula ketika dia menegur seseorang yang dia tuding selalu meminta uang di kafenya setiap hari.

Tokopedia

Ia kemudian menegur orang tersebut namun mendapatkan respons yang kurang menyenangkan. "Saya tegur baik-baik tapi justru dia teriak-teriak di depan sayaa & mengancam bahkan menggebrak meja. Anak itu tidak terima lalu lapor pada ayahnya yang preman senior, istilah orang disebut gento/kepalanya. Lalu mengajak sekitar 20-an anak-anak muda untuk menutup jalan depan kafe," tulisnya.

Ia menjelaskan sempat terlontar kalimat berbau SARA dari beberapa orang yang terlibat keributan dengannya. Merasa berada di pihak yang benar dan merasa menjadi korban premanisme, Tabitha berupaya melawan argumen beberapa orang tersebut.

Sontak kisah itu langsung menyebar di beberapa grup Facebook dan ramai dikomentari netizen. Kiriman video dengan keterangan yang disematkan Tabitha itu bahkan sudah dibagikan tak kurang dari 8.000 kali dan mendapatkan respons lebih dari 6.300 kali.

Sehari berselang, Ketua Karang Taruna RW 05, Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, Muhammad Fadly, berupaya memberikan klarifikasi terkait video viral yang terjadi di daerah tempat tinggalnya tersebut. Fadly bahkan mengunggah video di Facebook berisi perbincangannya bersama pemilik Kampoengan Cafe dan menyatakan permasalahan yang sempat viral itu kini sudah selesai dengan perdamaian.

"Saya dari ketua Karangtaruna RW 005, Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, bahwa saya mau mengklarifikasi soal yang lagi viral di media sosial tentang ya tadi lah. Pokoknya, intinya sudah selesai dengan pihak pemilik Cafedangan di sini dan dengan warga kampung," ungkap Fadly.

Fadly juga menambahkan pihak yang berseteru sudah bersepakat damai dengan disaksikan Kapolsek Jebres, Kompol Juliana BR Bangun. Fadly juga mengunggah foto-foto mediasi yang disaksikan kapolsek tersebut di grup Facebook Info Cegatan Solo demi memberikan klarifikasi terhadap netizen.

Fadly tak ingin masalah yang terlanjur viral di Facebook itu semakin menyebar luas di dunia maya. "Untuk pihak-pihak yang tidak mengetahui duduk permasalahannya jangan menambah masalah. Kita pengin Kota Solo adem ayem, tidak ada isu SARA, tidak ada isu-isu ras. Intinya masalah ini sudah selesai, jadi kita klarifikasi, tidak usah dibesar-besarkan lagi," lanjutnya.

Tak lupa pula Fadly meminta maaf kepada warga Solo yang resah atas kejadian yang viral tersebut. "Saya dari pihak Karang Taruna RW 005 dengan pemilik Kampoengan Cafedangan menyatakan masalah ini sudah selesai. Mohon maaf untuk semua warga Solo yang jadi resah dengan berita-berita yang tersebar," pungkasnya.

Sementara itu, Kapolsek Jebres Kompol Juliana BR Bangun membenarkan jika kedua belah pihak telah bersepakat damai. "Itu kejadiannya Jumat. Tapi sekarang sudah damai, sudah enggak ada masalah," jelas sang kapolsek kepada Solopos.com, Minggu (5/8/2018) malam.