Begini Jadinya Kalau Gerobak Sapi Dilombakan di Candi Plaosan Klaten

Gerobak sapi peserta Festival Gerobak Sapi Klaten 2018 melintas di jalan desa dengan latar Candi Plaosan atau Candi Kembar di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Minggu (5/8). (Solopos - Cahyadi Kurniawan)
05 Agustus 2018 19:35 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Gerobak milik Sujiyono Munthit, 49, terparkir di tepi jalan kawasan Candi Plaosan atau dikenal Candi Kembar, Minggu (5/8/2018). Ia tak sendirian, ada 115 gerobak sapi tradisional dan 8 gerobak berbaris menunggu Festival Gerobak Sapi 2018 dibuka.

Di sela-sela menuggu pembukaan, warga bebas menaiki gerobak sapi secara cuma-cuma. Gerobak sapi itu disewa oleh panitia senilai Rp300.000 untuk menyemarakkan festival tahunan Kabupaten Klaten. Gerobak itu ditarik dua ekor sapi dewasa jenis peranakan ongole (PO).

Sapi ini [PO] perawatannya lebih gampang ketimbang sapi metal atau lainnya. Ngombornya hanya dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Sapi metal ngombornya lebih boros,” kata Sujiyono, seorang bajingan atau sebutan untuk pengendara gerobak sapi asal Kanoman, Maguwoharjo, Jogja, sembari duduk di gerobaknya, Minggu pagi.

Di kampungnya, sapi PO lazim dipakai untuk membajak sawah, menggarap ladang, hingga menarik gerobak untuk angkut barang. Pekerjaan itu tak mungkin dilakukan oleh sapi jenis metal dan lainnya. Membajak lahan menggunakan sapi masih menjadi primadona petani di Maguwoharjo lantaran hasilnya lebih gembur ketimbang memakai traktor.

Upah yang diterimanya bervariasi. Satu paktok sawah seluas 1.000 meter persegi bisa mendapatkan Rp100.000–Rp150.000. Sesekali, sapi dan gerobak itu dibawa ke kawasan Candi Prambanan untuk mengangkut wisatawan berkeliling menikmati candi-candi dan suasana desa dengan upah Rp200.000–Rp250.000 per sekali perjalanan.

Kalau untuk wisata enggak mesti sepekan sekali. Lebih sering untuk kerja di sawah. Ini malah sapi punya saudara saya katanya mau dijual Rp85 juta satu ekor,” ujar dia.

Bajingan lain, Sukini, 50, menceritakan beternak sapi menjadi kebanggan bagi keluarga. Biasanya, sapi yang dipelihara adalah sapi turun temurun dari kakek kepada anak hingga cucu. Di kampungnya, Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambanan, bahkan ada satu kelaurga hingga memiliki delapan ekor sapi PO. “Biasanya turun temurun. Sapi saya di rumah sekarang juga mulai dirawat sama anak saya. Beberapa kali dibawa ke Solo untuk wisata,” beber dia.

Memiliki sapi dalam pandangan masyarakat Jawa umumnya dinilai memiliki status sosial yang lebih tinggi. Sapi atau disebut rajakaya dalam tradisi Jawa, menjadi sebuah aset sekaligus kebanggan keluarga.

Sapi menjadi kekayaan orang desa. Mereka yang memiliki sapi dianggap status sosialnya lebih tinggi. Kalau sekarang mungkin untuk kelangenan saja,” beber Ketua Paguyuban Gerobak Sapi Langgeng Sehati, Lasiman, 63, di sela-sela festival.

Sebagai aset, lanjut Lasiman, orang desa biasanya menjual sapi saat mau hajatan seperti pernikahan atau membayar kebutuhan sekolah. Harga satu ekor sapi PO biasanya cukup untuk membiayai sekolah anak hingga selesai.

Kenapa dipilih sapi PO? Karena sapi ini lebih jinak ketimbang sapi dan ternak lain seperti kuda, misalnya. Sapi ini dikenal mudah diatur dan tak merepotkan soal perawatannya. Sapi PO disuruh menunggu di depan panggung agak lama bisa tetap tenang. Kalau kuda mungkin sudah ketakutan,” tutur Lasiman.

Camat Prambanan, Suhardi, menjelaskan Festival Gerobak Sapi Klaten 2018 selain untuk menyemarakkan peringatan Hari Jadi ke-214 Kabupaten Klaten, juga sekaligus melestarikan angkutan tradisional yang mulai tergerus oleh angkutan modern. Dalam festival itu, konvoi gerobak sapi berkeliling melintasi desa-desa di Kecamatan Prambanan sejauh sekitar 6,5 kilometer.