Pesta Motor Lawas di Kenduri Motor Klaten

Aneka sepeda motor Honda model kuno dipamerkan dalam kontes motor lawas di Kenduri Motor Klaten 2018, Minggu (5/8/2018). (Solopos - Cahyadi Kurniawan)
05 Agustus 2018 20:15 WIB Cahyadi Kurniawan Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sepeda motor Honda C70 menjadi kawan setia Septyawan Hidayat, 25. Sepeda motor tua itu ia tunggangi dari Wonogiri hingga Bukit Patrum, di Dukuh Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat.

Sepanjang perjalanan, ia tak menemui banyak kendala. Sepeda motornya bisa dibilang sehat bak sepeda motor baru dari dealer. Ia tak sendirian, ada puluhan pencinta motor serupa datang berangkat bersama di bawah bendera komunitas sepeda motor Gajah Mungkur Plethuk Club Wonogiri.

Tokopedia

“Lebih pede saja naik motor klasik. Nyaman dan seakan sudah menyatu. Dari segi perawatan juga mudah cukup biasa dilap setiap hari, diisik-isik biar cling,” ujar Ketua Gajah Mungkur Plethuk Club Wonogiri, Septyawan, seraya tertawa saat berbincang dengan Solopos.com di sela-sela Kenduri Motor Klaten 2018 di Bukit Patrum, Minggu (5/8/2018).

Kawan Septyawan, Antoni Tipuk Nugroho, 28, mengutarakan kesenangan yang sama. Bagi dia, mengendarai Honda C70 juga menjadi kenikmatan sendiri saat menjadi sorotan pengguna jalan lain di jalan raya. Tak jarang, ia mengobrol dengan orang yang tertarik sepeda motor lawasnya. “Mungkin orang pada heran ya motor tua kok masih bisa jalan,” ujar Tipuk yang menjadi Ketua Komunitas Plethuk Karanganyar.

Banyak kisah dilaluinya bersama Honda C70 kesayangannya. Salah satunya adalah saat motor milik temannya, Sapto Nugroho, mengalami pecah silinder pada malam hari dalam touring Sumedang – Bandung bersama sesama komunitas pencinta C70. Sepeda motor Sapto akhirnya disetut atau didorong menggunakan satu kaki oleh sepeda motor lain secara bergantian dari Sumedang ke Jogja.
Kesenangan menunggangi Honda C70 dan sejenisnya juga didukung dengan mudahnya mendapatkan suku cadang.

“Yang penting adalah beli suku cadang asli walau bekas. Mending bekas tapi orisinil ketimbang baru tapi imitasi. Itu yang bikin motor awet. Cara pemakaiannya juga butuh kemesraan,” sahut Sapto, yang menjadi ketua panitia Kenduri Motor Klaten 2018 berkelakar.

Soal harga, baik Tipuk, Septyawan, dan Sapto sama-sama tak tahu berapa harga pasaran sepeda motor miliknya. Sapto menuturkan sepeda motor yang ikut kontes saja minimal harganya Rp15 juta. Bahkan, pernah ada rekannya menjual sepeda motor Honda C70 hingga Rp30 juta lebih. “Semakin orisinil semakin mahal. Yang jenis 50 cc itu paling mahal atau yang jenis tanki pisah banyak diburu penggemar. Mungkin karena klasiknya,” imbuh Tipuk yang lima tahun terakhir rajin menunggangi C70.

Kenduri Motor Klaten 2018 diikuti setidaknya 3.000 pencinta motor dari Soloraya dan perwakilan sejumlah kota di luar Jawa. Selain kontes sepeda motor dan hiburan musik, kegiatan itu ditambah dengan rolling thunder atau pawai keliling Klaten dan bakti sosial kepada anak yatim. “Dipilih Bukit Patrum sekalian untuk promosi wisata Klaten,” kata Sapto.