Penasaran Asale Desa Sendang Ijo Selogiri? Simak Ulasannya

Seorang warga mengamati sendang di Dusun Kedung Banteng, Desa Sendang Ijo, Selogiri, Wonogiri, Jumat (3/8/2018). Sendang itu cikal bakal penamaan desa setempat. (Solopos - Rudi Hartono)
05 Agustus 2018 15:48 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Ada salah satu desa di Selogiri, Wonogiri yang bernama Sendang Ijo. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sendang adalah kolam di suatu tempat, seperti di pegunungan, yang airnya berasal dari mata air di cekungan kolam tersebut.

Airnya jernih sehingga bisa dimanfaatkan untuk mandi, mencuci pakaian, dan keperluan konsumsi. Ijo adalah ejaan bahasa Jawa yang berarti hijau. Secara harfiah, sendang ijo berarti sendang berwarna hijau.

Tokopedia

Penamaan Desa Sendang Ijo memang tak jauh dari keberadaan sendang di desa tersebut. Namun, sejauh ini belum belum terungkap kapan penemuan sendang tersebut. Sampai sekarang sendang di Dusun Kedung Banteng tersebut masih dimanfaatkan warga.

Kepala Desa (Kades) Sendang Ijo, Dirun, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Jumat (3/8/2018), mengatakan berdasar cerita yang berkembang di desa nama sendang ijo diberikan seorang ulama setelah menemukan sebuah sendang.

Dahulu kala ada seorang ulama menemukan sebuah sendang saat sedang beristirahat.

Kala itu ulama tersebut menjalankan tugas menyebarkan Agama Islam. Sendang yang ditemukannya memiliki air jernih dan volumenya besar. Air tersebut mengalir ke sungai yang terdapat banyak ikan. Sekitar sendang terdapat pepohonan rindang.

Daunnya hijau dan menjadi warna dominan tempat tersebut. Atas kondisi itu ulama tersebut menamakan lokasi sekitar sendang Sendang Ijo.

Ikan Keramat

Seiring berjalannya waktu, kawasan itu menjadi permukiman. Kehidupan warga tak terlepas dari sendang. Mereka memanfaatkan air sendang untuk mandi, mencuci pakaian, bahkan menjadi air minum.

Meski di sungai tempat mengalirnya air sendang terdapat banyak ikan, tetapi warga tak ada yang berani menangkapnya. Warga meyakini ikan tersebut keramat.

“Dulu seluruh wilayah di sini bernama Sendang Ijo. Seiring perkembangan zaman wilayah dipecah-pecah menjadi dusun-dusun. Setiap Muharam ada kelompok orang yang mengaku dari sebuah padepokan di Semarang berziarah ke sendang. Kadang rombongannya satu bus, kadang sampai dua bus,” kata Kades.

Saat ini sendang yang menjadi cikal bakal penamaan desa masih dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih lebih kurang 15 keluarga yang bertempat tinggal di sekitar sendang.

Air sendang juga dimanfaatkan untuk keperluan Mushala Assalam yang dibangun dekat dengan sendang. Pantauan di lokasi terdapat dua sendang.

Satu sendang dibangun seperti sebuah bunker. Airnya dimanfaatkan warga dengan cara disedot menggunakan mesin pompa. Satu sendang lainnya dibiarkan tetap alami. Airnya jernih, kedalaman lebih kurang 3 meter dengan luasan permukaan lebih kurang 2 meter persegi.