Nama Peserta Lolos Seleksi Perdes Sragen Beredar Sebelum Tes

Ujian kompetensi perangkat desa di Gedung SMS Sragen, Selasa (10/4 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
06 Agustus 2018 18:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com SRAGEN -- Selebaran berisi nama-nama calon perangkat desa (perdes) yang lolos seleksi beredar sebelum pelaksanaan computer assisted test (CAT) di wilayah Kecamatan Kalijambe, Sragen, Senin (6/8/2018).

Nama-nama calon perdes itu diperinci per desa. Ada tujuh desa yang disebut-sebut dalam selebaran tersebut.

Tokopedia

Peredaran selebaran nama-nama peserta yang lolos seleksi perdes itu tidak hanya di kalangan tokoh di Kalijambe tetapi juga sampai ke beberapa legislator DPRD Sragen. Mantan Kepala Desa Keden, Kalijambe, Sragen, Samuji, mengaku mendapat kiriman selebaran itu lewat aplikasi pesan Whatsapp sekitar pukul 12.00 WIB.

Dia kaget karena nama-nama yang muncul dalam selebaran belum mengikuti CAT di SMKN 2 Sragen. “Saya jadi bertanya-tanya, kok bisa muncul nama-nama seperti itu sedangkan tesnya saja belum dimulai. Ini aneh dan saya menduga ada indikasi kecurangan oleh pihak-pihak tertentu. Saya kaget dan tahunya dari grup-grup Whatsapp juga,” kata Samuji saat dihubungi Solopos.com, Senin sore.

Beberapa tokoh partai politik juga menerima selebaran itu. Bahkan ada seorang tokoh Kalijambe yang enggan disebut namanya mendapat informasi nama-nama dalam selebaran itu diduga merupakan “jatah” untuk tim sukses Bupati.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat ditanya Solopos.com kaget mendengar adanya selebaran yang menyebut beberapa nama akan menjadi perdes. “Nama? Apa meneh kuwi [apa lagi itu]? Enggak ada jatah-jatahan. Semua orang saat ini bisa berspekulasi apa saja. Jarke wae [biarkan saja]. Pengondisian? Oknum apalagi ini, hadech!” tulisnya dalam pesan singkat lewat Whatsapp, Senin.

Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno justru penasaran dengan selebaran itu. Ia ingin membuktikan apakah selebaran itu betul atau tidak setelah pengumuman nanti.

Dia waswas bila selebaran serupa juga muncul di wilayah kecamatan lainnya. “Kalau benar luar biasa. Kita lihat saja hasilnya besok,” ujarnya.

Seorang peserta tes calon perdes asal Sragen, HK, 35, mengaku pernah mendapat iming-iming agar ikut jalur titipan dengan menyerahkan sejumlah uang. HK tak mau terbawa arus meskipun ia pesimitis bisa lolos dalam seleksi perdes di desanya.

Dia mengkritik pelaksanaan CAT yang sudah ia ikuti di SMKN 2 Sragen. "Coba lihat dari nomor urut peserta tidak pernah berubah sejak awal sampai pelaksanaan tes. Nama-namanya juga tidak berubah sehingga kursi yang didudukinya pun bisa diketahui. Hal ini berpotensi munculnya kecurigaan. Mestinya saat pendaftaran peserta diacak tempat duduknya tidak sesuai nomornya sehingga benar-benar fair,” katanya saat berbincang dengan Solopos.com, Senin siang.

HK semakin curiga ketika mengetahui semua soalnya sama dan tidak diacak. Ia hanya bisa berharap supaya ada tim khusus untuk menyelidiki hal itu.

Di sisi lain Ketua Dewan Pengurus Kabupaten Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara (LPPN) RI Kabupaten Sragen, Mahmudi Tohpati, mengaku mendapat aduan dari masyarakat tentang indikasi bocoran soal dari oknum tertentu yang diberikan kepada para calon perdes.

“Bocoran soal itu sempat diperdagangkan dengan nilai bervariasi. Kami masih menyelidiki. Bila menemukan bukti, kami tidak segan-segan membawa ke aparat penegak hukum,” tambahnya.

Ketua Forum Komunikasi Kepala Desa (FKKD) Sragen, Sutrisno, mengatakan kalau aduan kebocoran soal itu benar, perguruan tinggi yang diajak bekerja sama oleh pemerintah desa tidak bisa menerjemahkan visi dan misi dalam Perda dan Perbup.

Dia menjelaskan dalam regulasi itu jelas bobot ujian tertulis itu 50% dan tes komputer 20%. “Kalau ada indikasi kebocoran soal ya berarti tidak konsisten,” katanya.