106 Hari Tak Hujan, Warga Baturetno Wonogiri Sedot Air WGM

ilustrasi kekeringan. (Solopos/Dok)
06 Agustus 2018 13:35 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Wilayah Kecamatan Baturetno, Wonogiri, sudah 106 hari tidak diguyur hujan. Hal ini membuat petani setempat khawatir dengan kelanjutan tanaman padi mereka.

Mereka berupaya mengatasi kondisi itu dengan mengambil air langsung dari Waduk Gajah Mungkur (WGM) dengan cara disedot menggunakan pompa. Berdasarkan informasi dari Stasiun Klimatologi Semarang pada Selasa (31/7/2018) mengenai peringatan dini kekeringan di Jawa Tengah, Baturetno dan Giritontro menempati peringkat II dan III daerah tidak turun hujan.

Kecamatan Baturetno telah 106 hari tidak turun hujan sedangkan Kecamatan Giritontro 98 hari. Camat Baturetno, Teguh Setiyono, saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (4/8/2018), mengatakan dampak tidak pernah turun hujan tidak terlalu signifikan mengingat pertanian di Baturetno dapat mengandalkan perairan Waduk Gajah Mungkur dengan cara disedot.

“Masyarakat sudah terbiasa dengan kondisi musim seperti ini, para petani di sekitar waduk tinggal menambah jumlah selang seperti di Desa Setro, Kedungombo, Boto, Sendang, Talun, Gambir, Glesung, hingga Balepanjang, untuk menyedot air,” ujar Teguh.

Teguh mengungkapkan ada pertemuan dengan penyuluh lapangan pertanian dua kali dalam sepekan dan sejauh ini tidak ada masalah berarti dalam hal pertanian. Petani juga bekerja sebagai nelayan untuk menyiasati pendapatan.

Selain itu, masyarakat juga tidak kesulitan dalam mencari air untuk kehidupan sehari-hari karena telah berlangganan PDAM. Sementara itu program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) juga telah berjalan dengan baik sehingga tidak terlalu mengkhawatirkan.

Warga Baturetno, Susanto, mengatakan Baturetno bukan daerah yang kering walaupun dalam kondisi kemarau panjang. Ia mengaku telah terbiasa dengan kondisi seperti ini sehingga tidak melakukan persiapan khusus dalam menghadapi kemarau.